Andai Grab Gojek Bersatu, Ini Efeknya

GenBisnis, JAKARTA – Dewasa ini, berhembus kabar bahwa PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau yang lebih dikenal dengan Gojek berencana melakukan aksi merger dengan Grab.

Seperti dilaporkan oleh salah satu sumber yang dimiliki Bloomberg (25/2/2020), petinggi kedua perusahaan tersebut telah melakukan pembicaraan awal mengenai potensi merger itu.

Isu tersebut diperkuat pula oleh laporan dari The Information yang menyebutkan Presiden Grab Ming Maa dan Co-CEO PT Aplikasi Karya Anak Bangsa atau Gojek Andre Soelistyo telah mengelar pertemuan pada awal bulan ini.

Ketika dikonfirmasi, isu tersebut pun langsung dibantah oleh pihak Gojek.

“Tidak ada rencana merger, dan pemberitaan yang beredar di media terkait hal tersebut tidak akurat.” ujar Chief Corporate Affairs Gojek Nila Marita , Selasa (25/2/2020).

Namun, sejatinya ada yang menarik apabila menilik peluang terjadinya merger kedua raksasa digital Asia Tenggara itu.

Seperti diketahui, basis pengguna kedua perusahaan tidak lagi hanya dibangun berdasarkan jasa transportasi daring, melainkan juga beberapa layanan seperti jasa jual-beli makanan, tiket, pulsa, dan bahkan kesehatan.

Angka pengguna kedua aplikasi tersebut juga tidak main-main. Per semester I/2019, aplikasi dan ekosistem Gojek telah diunduh oleh lebih dari 155 juta pengguna, dengan lebih dari 2 juta mitra pengemudi, hampir 400.000 mitra merchants, dan lebih dari 60.000 penyedia layanan di Asia Tenggara.

Sementara Grab, meskipun belum ada informasi mengenai jumlah pengguna aplikasi di Indonesia secara spesifik, tetapi di Asia Tenggara, perusahaan telah memiliki kurang lebih 144 juta pengguna dan 9 juta mitra pengemudi.

Capaian kedua perusahaan tersebut boleh jadi diperoleh dari aksi ‘bakar uang’ yang mereka lakukan selama kurang lebih lima tahun terakhir.

Keduanya sama-sama bertransformasi menjadi aplikasi super (super apps) dan saling sikut untuk memenangkan pasar Indonesia, bahkan Asia Tenggara.

Baca Juga :  Facebook, Paypal, Ikut Danai Gojek Di Putaran Kedua

Persaingan antara kedua perusahaan diperkirakan bakal terus terjadi lantaran skala bisnisnya yang sudah terlalu besar dan sulit ditandingi perusahaan lain.

Namun, proses persaingan kedua perusahaan tersebut sama sekali tidak gratis. Aksi ‘bakar duit’ kemungkinan besar masih akan menjadi senjata kedua perusahaan untuk berebut pasar.

Akan tetapi, tentu akan sulit jika kedua perusahaan masih mengandalkan minat investor untuk terus menggelontorkan dananya ke startup besar sebagai bahan bakar untuk melakukan ‘bakar duit’.

Dalam hal ini, merger mungkin akan menjadi solusi bagi kedua perusahaan untuk menguasai pasar Indonesia dan bahkan Asia Tenggara. Entitas baru gabungan dari kedua perusahaan, akan lebih mudah untuk secara tidak langsung memonopoli pasar.

Aksi ‘bakar duit’ pun kemungkinan besar akan berkurang drastis lantaran persaingan menjadi menipis.

Selain itu, apabila kedua perusahaan melakukan penyatuan usaha tentunya juga akan mendongkrak valuasi perusahaan.

Saat ini saja, dengan menyandang status sebagai decacorn, Gojek dipastikan memiliki valuasi mencapai US$10 miliar. Sementara itu, Grab diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$11 miliar.

Namun, jika perusahaan melakukan merger, tentu tidak serta merta hanya membawa efek positif.

DAMPAK KONSUMEN

Pengamat Transportasi Institut Studi Transportasi (Instran) Darmaningtyas mengatakan konsumen bakal menjadi pihak paling terdampak jika PT Aplikasi Karya Anak Bang (Gojek) melakukan merger dengan Grab.

Menurutnya, konsumen tidak akan memiliki pilihan lain, baik itu tarif maupun layanan, apabila merger antara kedua perusahaan benar-benar terealisasi.

“Konsumen harus menerima tarif yang ditentukan oleh aplikator. Pilihannya hanya mau pakai atau tidak. Kalau sekarang ini, sebelum menentukan akan menggunakan Gojek apa Grab, konsumen dapat lihat tarifnya dulu, untuk tujuan yang sama mana yang lebih murah. Umumnya, konsumen memilih tarif yang lebih murah baru kemudian ngeklik,” ujarnya, Selasa (25/2/2020).

Baca Juga :  Cara Gojek dan Grab Untuk Meminimalisir Dampak Corona

Di sisi lain, apabila merger antara kedua perusahaan benar-benar terjadi juga akan memberikan peluang kepada penyedia platform baru yang sekarang sedang muncul.

Menurut Darmaningtyas, hal tersebut menjadi peluang bagi pemain baru jika platform mampu menawarkan tarif yang lebih murah serta layanan yang lebih cepat, sehingga masyarakat memiliki pilihan baru.

Seperti diketahui, beberapa waktu lalu persaingan bisnis transportasi daring diramaikan dengan munculnya platform bermerk Anterin.id. Platform tersebut didirikan oleh Imron Hamzah yang sekaligus menjabat sebagai CEO.

Platform tersebut menerapkan biaya langganan bulanan hanya Rp150.000 per pengemudi, baik roda dua maupun roda empat, tanpa potongan komisi, sehingga kalau ada order itu semua keuntungan diberikan 100 persen untuk pengemudi.

Anterin masih berupa perusahaan rintisan dengan pendanaan lokal dan sudah memiliki 200.000 mitra pengemudi yang 90 persen di antaranya adalah pengemudi ojek daring.

Ditemui seusai Rapat Kerja Bersama dengan Komisi I DPR RI, Selasa (25/2/2020), Menteri Komunikasi dan Informatika Johnny Gerard Plate secara umum berharap jika ada konsolidasi-konsolidasi dalam rencana merger, yang merupakan aktivitas business-to-business, dilakukan dengan tujuan menyemarakkan bisnis di ruang digital.

“Namun, Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemenkominfo) tidak dalam posisi memberi atau tidak memberi apresiasi, karena itu kewenangan bisnis,” ujarnya di ruang rapat Komisi I DPR RI, Jakarta (25/2/2020).

Tentu, apabila kedua perusahaan tersebut pada akhirnya bersatu, bukan tak mungkin fenomena baru akan muncul. Seperti yang diungkapkan Darmanintyas, jika Grab dan Gojek resmi bersatu, maka konsumen akan menjadi penentu kelanjutan nasib perusahaan hasil merger tersebut.

Sumber.

Leave a Reply