Berita Positif Dari BI, Rupiah akan Menguat

GenBisnis, Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan pergerakan nilai tukar rupiah dalam jangka pendek dipengaruhi faktor-faktor teknikal seperti berita dan perkembangan yang terjadi di dalam dan luar negeri. Kondisi tersebut membuat mata uang Garuda bergerak dinamis dan fluktuatif setiap harinya.
 
Hari ini misalnya, adanya berita terkait pembukaan kegiatan ekonomi di sejumlah wilayah di Amerika Serikat (AS) dan Eropa setelah beberapa pekan ditutup akibat meluasnya penyebaran pandemi virus korona (covid-19). Berita tersebut membawa angin segar bagi pergerakan nilai tukar rupiah.
 
“Kemarin ada berita-berita positif sehingga itu membawa dan membuat rupiah menguat ke Rp15.030 per USD. Hari ini, masih banyak berita-berita positif yang Insyaallah akan membawa nilai tukar rupiah kita bergerak di bawah Rp15 ribu,” ungkap Perry dalam telekonferensi di Jakarta, Rabu, 6 Mei 2020.

Berita positif lainnya yang membuat Perry optimistis mata uang Garuda hari ini menguat lantaran adanya pernyataan dari anggota The Federal Reserve terkait kemungkinan ekonomi AS yang mulai membaik di semester II-2020. Meskipun pada semester I-2020 ekonomi negeri Paman Sam diprediksi mengalami resesi.
 
Selain itu, adanya kemungkinan harga minyak global yang diproyeksi akan mengalami kenaikan. Padahal sebelumnya harga minyak mentah dunia merosot tajam hingga ke kisaran USD20 per barel imbas penyebaran pandemi covid-19.
 
Kendati begitu, masih ada sejumlah faktor dan berita negatif yang memengaruhi pelemahan rupiah. Di antaranya masih adanya ketegangan hubungan antara AS dengan Tiongkok, Presiden AS Donald Trump akan mengenakan tarif kepada Negeri Tirai Bambu tersebut.
 
“Juga adanya ketegangan antara Korea Utara (Korut) dengan Korea Selatan (Korsel), kemudian Mahkamah Konstitusi Jerman yang memutuskan bahwa quantitative easing yang dilakukan bank sentral Eropa tidak konstitusional. Jadi berbagai faktor itu yang disebut faktor teknikal yang dalam jangka pendek memengaruhi naik turunnya nilai tukar rupiah,” ungkap Perry.
 
Sementara berdasarkan faktor fundamental, tren nilai tukar rupiah terus bergerak stabil dan cenderung menguat. Hal ini dipengaruhi data dan perkiraan mengenai tingkat inflasi, defisit transaksi berjalan atau Current Account Deficit (CAD), hingga perbedaan imbal hasil (yield) surat utang pemerintah di dalam dan luar negeri.
 
Soal tingkat inflasi, diperkirakan akan bergerak stabil dan rendah hingga akhir 2020. Sementara CAD secara keseluruhan tahun ini bakal berada di bawah dua persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), lebih rendah dari prakiraan awal sebesar 2,5-3 persen PDB.
 
Sedangkan suku bunga surat utang Indonesia sangat tinggi dan diklaim bakal menguntungkan investor. Ini terlihat dari yield Surat Berharga Negara (SBN) dengan tenor 10 tahun sebesar 8,02 persen, sementara yield surat utang milik AS dengan tenor yang sama hanya sekitar 0,3 persen hingga 0,4 persen. Perbedaan (spread) yield surat utang Indonesia dan AS yang lebih dari 7,5 persen ini membuat investor asing tertarik untuk membeli SBN milik Indonesia.
 
“Semuanya itu mengarah kenapa kami menyampaikan bahwa nilai tukar rupiah yang sekarang ini masih undervalue dan ke depannya akan terus menguat ke arah Rp15 ribu di akhir tahun,” tutup Perry

Baca Juga :  Vietnam Berhasil Atasi Corona Tanpa Jatuh Korban, Inilah Rahasianya

(HG) Sumber.
 

Leave a Reply