Dua Ular Naga Jadi Penanda Berdirinya Kesultanan Yogyakarta

Sepekan terakhir ini, kabar mengenai ular yang melingkar di pilar bangunan kompleks Keraton Yogyakarta menyedot perhatian. Ngomong-ngomong, berdirinya kasultanan ini juga ditandai dengan ular, lho.

Peristiwa ular melingkar di pilar bangunan Keraton terjadi pada 8 Oktober 2020 atau hari Kamis malam alias malam Jumat Pon dalam kalender Jawa. Lokasinya ada di Bangsal Kemagangan, kompleks Keraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat.

Dua ular naga yang menjadi penanda berdirinya Keraton juga ada di Kemagangan, tepatnya di pintu gerbang, disebut sebagai Regol Kemagangan, menghubungkan plataran (atau pelataran dalam bahasa Indonesia) Kemagangan dengan plataran Kedhaton, kawasan tertinggi dalam kompleks Keraton.

Dua ular naga itu disebut sebagai ‘Dwi Naga Rasa Tunggal’. Ini adalah candrasengkala atau sengkalan, perwujudan penanda tahun peristiwa monumental.

Baca Juga :  Kreatif! Korban PHK Rakit Wastafel Anti Covid-19

Ada dua sengkalan, yakni sengkalan lamba (sederhana), yakni diwujudkan dalam bentuk kata-kata. Ada pula sengkalan memet (rumit), yang diwujudkan dalam bentuk visual berupa gambar, relief, atau patung. Disebut sebagai sengkalan memet (rumit) karena tidak ada aturan baku untuk membaca rangkaian citra visual sengkalan tersebut, kecuali ada bantuan dari sengkalan lamba yang berupa kata-kata.

Dikutip dari situs resmi Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (kratonjogja.id), Dwi Naga Rasa Tunggal adalah sengkalan memet berwujud patung. Dua ekor naga saling membelakangi dan dengan dua ekor yang saling membelit. Naga itu berwarna hijau.

(aji)

Leave a Reply