Haji 2020 Digelar Dengan Protokol Kesehatan !

  1. Jumlah Muslim yang diizinkan untuk melakukan haji mendatang mungkin sekitar 1.000 orang saja.
  2. Semua jemaah akan dites Virus Corona COVID-19 sebelum mereka mencapai situs suci.
  3. Hanya Muslim di bawah usia 65 tahun yang akan diizinkan untuk melakukan haji tahun ini.
  4. Semua jemaah akan diminta untuk mengkarantina diri setelah mereka menyelesaikan ritual haji.
  5. Semua pekerja dan relawan akan dites Virus Corona COVID-19 sebelum ibadah haji dimulai.
  6. Status kesehatan semua jemaah akan dipantau setiap hari.
  7. Rumah sakit telah disiapkan untuk keadaan darurat yang terjadi selama ibadah.
  8. Langkah-langkah jarak sosial akan ditegakkan.

Pengumuman untuk mengadakan haji terbatas ini dinilai akan mengecewakan jutaan umat Muslim di seluruh dunia. Sebab, para jemaah kerap menginvestasikan sebagian besar tabungan mereka bahkan harus sabar menanti daftar tunggu yang panjang untuk melakukan ibadah haji.

Meski begitu, keputusan ini menjadi angin segar bagi para jemaah domestik yang khawatir ibadah tahunan itu akan dibatalkan secara keseluruhan.

“Arab Saudi telah memilih opsi teraman yang memungkinkan menyelamatkan nama baiknya di dunia Muslim sambil memastikan bahwa mereka tidak dipandang berkompromi soal kesehatan masyarakat,” kata Umar Karim, seorang pengamat dari Royal United Services Institute di London, kepada AFP.

“Tapi ada banyak pertanyaan yang tidak terjawab: Berapa jumlah Jemaah haji yang akan diizinkan? Apa kriteria pemilihan mereka? Berapa banyak warga Saudi dan berapa banyak warga non-Saudi?”

Baca Juga :  Warga Kebon Pala Ngaku Belum Tahu Akan Kena Normalisasi

Di sisi lain, ibadah haji “sangat terbatas” ini akan membuat Arab Saudi rugi besar. Padahal negara kerajaan tersebut telah terguncang dua hal, yaitu pelambatan ekonomi yang disebabkan oleh virus dan anjloknya harga minyak dunia.

Selain ibadah haji yang kini terbatas, sebelumnya pemerintah Arab Saudi juga telah menangguhkan ibadah umrah sejak bulan Maret lalu. Diketahui kedua ibadah ini berhasil menambah pemasukan ke ekonomi Arab Saudi sebesar US$ 12 miliar (setara dengan Rp 170 triliun) setiap tahun, demikian menurut data pemerintah.

“Ini merupakan tahun yang sangat sulit, dengan Arab Saudi menghadapi penuruan pendapatan dari semua sektor – minyak, pariwisata, konsumsi domestik, dan sekarang umrah dan haji,” kata Karen Young, seorang sarjana di American Enterprise Institute.

Haji dengan skala penuh dengan jutaan jemaah memang tampaknya tidak mungkin dilakukan, apalagi setelah pihak berwenang menyarankan warga Muslim pada akhir Maret lalu untuk menunda persiapannya karena wabah COVID-19 yang menyebar cepat dan belum terbendung.

Awal bulan ini, Indonesia, negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia, menjadi salah satu negara pertama yang memutuskan meniadakan pemberangkatan ibadah haji di tahun ini. Malaysia, Senegal, dan Singapura pun mengikuti dengan mengeluarkan pengumuman serupa.

Baca Juga :  Virus Corona Pengaruhi Pendapatan Bisnis Windows

“Keputusan Saudi sejalan dengan dasar pembatalan keberangkatan jemaah Indonesia yang diumumkan 2 Juni lalu, yaitu keselamatan jemaah haji,” ungkap Menteri Agama RI Fachrul Razi. 

Juru Bicara Kementerian Agama RI Fathurahman mengapresiasi keputusan haji terbatas yang dipilih pemerintah Arab Saudi. Keputusan itu menurutnya sejalan dengan langkah yang diambil Kementerian Agama RI.

“Saya kira enggak ada lega atau tidak lega, karena ini kebijakan dari Saudi dan siapa pun tak bisa intervensi, jadi kita apresiasi saja,” ujarnya

Sejak awal, jelas dia, secara substantif keputusan Kemenag untuk meniadakan pemberangkatan Haji 2020 sudah berdasarkan pertimbangan kajian yang matang. 

“Jadi sebetulnya, baik kemarin dan sekarang (setelah ada keputusan Arab Saudi), kami tetap keyakinan bahwa keputusan Kemenang adalah yang terbaik.”

(HG) Sumber.

Leave a Reply