Indeks Bisnis-27 & IDX BUMN-20 Lebih Perkasa Dibanding IHSG, Ini Alasannya

Genbisnis, JAKARTA – Mayoritas indeks acuan yang tercatat di Bursa Efek Indonesia mencetak kinerja di atas indeks harga saham gabungan (IHSG), termasuk indeks Bisnis-27.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia Kamis (12/11/2020), indeks komposit terpantau parkir di level 5.48,60 setelah terkoreksi 0,92 persen dibandingkan level penutupan perdagangan sebelumnya di level 5.509,51.

Kendati pada perdagangan hari ini IHSG terkoreksi, Sejak awal November, IHSG menunjukkan kinerja yang moncer. Tercatat, hingga perdagangan 12 November 2020, indeks telah menguat 6,44 persen dari posisi akhir Oktober di level 5.128,22.

Dalam periode yang sama, mayoritas indeks lain yang tercatat di bursa ternyata mampu mengungguli kinerja IHSG.

IDX BUMN-20 menempati posisi teratas daftar kinerja indeks November ini. Indeks berisi emiten-emiten pelat merah tersebut mencatat kenaikan hingga 13,33 persen secara month to date (mtd).

Begitu pula indeks hasil kerja sama Harian Bisnis Indonesia dengan Bursa, yakni indeks Bisnis-27 yang menorehkan kinerja 8,91 persen pada periode yang sama. 

Head of Equity Trading MNC Sekuritas Medan Frankie Wijoyo mengatakan penguatan mayoritas indeks acuan terdorong oleh kenaikan saham-saham berkapitalisasi jumbo alias big caps.

Dia menjelaskan, selama beberapa bulan belakangan saham big caps cenderung underperform dibandingkan saham second liner atau third liner, sehingga ketika momentum pemulihan pasar tiba mereka pun lebih dulu rebound.

“Saham-saham ini yang menjadi incaran investor ketika terjadi capital inflow. Jadi ini saatnya big caps mengalami rally sehingga index acuan lain mengalami outperformance dibandingkan IHSG,” tuturnya kepada Bisnis, Kamis (12/11/2020).

Baca Juga :  Mitrabara (MBAP) Targetkan Penjualan 3,5 Juta Ton Batu Bara pada 2021

Frankie menuturkan, hal serupa juga terjadi pada indeks Bisnis-27 karena penghuni indeks tersebut adalah emiten-emiten menengah ke atas dengan lini bisnis yang besar di sektornya masing-masing. 

Salah satu sektor yang dinilai memiliki kinerja cukup baik adalah sektor barang konsumsi. Menurutnya, meski daya beli masyarakat tidak semaksimal masa prapandemi, tapi daya beli sejauh ini tetap terjaga ditopang stimulus pemerintah.

Sektor lainnya adalah agribisnis. Sebab, bisnis di sektor barang konsumsi juga banyak berasal dari turunan crude palm oil (CPO), seperti minyak goreng, sabun, kosmetik dll, sehingga perkebunan masih menorehkan profit di tahun pandemi ini.

Kemudian, sektor telekomunikasi dan infrastruktur penunjangnya juga termasuk paling positif, tidak terlepas dari diterapkannya gaya hidup new normal yang sangat membutuhkan jaringan internet tahun ini. 

Baca Juga :  Jalan Panjang Biden ke Gedung Putih: 2 Kali Gagal dan Dirundung Tragedi

“Sentimen-sentimen ini yang mendongkrak indeks Bisnis-27,” kata Frankie. 

Sementara itu, untuk sektor perbankan dan pertambangan, Frankie menilai kedua sektor tersebut sebenarnya masih menjanjikan dan bisa dicermati untuk dikoleksi sampai penutup tahun. 

Dia menyebut empat bank raksasa yang bernaung di bawah Bisnis-27 menunjukan kenaikan harga saham, seiring mulai kembalinya geliat bisnis dan ekonomi. Terutama inflow asing yang kuat bulan ini. 

“PTBA dan ADRO juga bisa dicermati. Walau bergerak datar, dengan volume yang terjaga dan dengan menanti katalis kuat seperti wacana gasifikasi batubara dan kembali mengeliatnya manufaktur di China, diharapkan bakal mendongkrak saham-saham pertambangan,” pungkasnya.

(DO) sumber.

Leave a Reply