Ketua Dewan Komisioner OJK Optimistis Pemulihan dan Ketahanan Ekonomi

Genbisnis – Dibalik peluang dan perkiraan terhadap ekonomi negara ini, masih belum bisa dipastikan kemana pergerakan ekonomi akan bergerak ditengah kodisi pandemi. Namun beberapa tokoh termasuk Ketua Dewan Komisioner OJK pun menyampaikan pendapatnya mengenai hal tersebut.

Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengaku optimistis pemulihan dan ketahanan ekonomi Indonesia berada dalam jalur yang positif.

Hal tersebut dia sampaikan dalam Seminar Nasional Capital Market Summit & Expo (CMSE) 2020 yang diadakan secara virtual melalui laman daring cmse.id, Senin (19/10/2020).

Wimboh menilai upaya-upaya yang selama ini dilakukan oleh OJK bersama dengan pemangku kebijakan lain termasuk pemerintah, Bursa Efek Indonesia, dan Bank Indonesia telah menunjukkan hasil yang baik.

“Sudah cukup berhasil kami bisa katakan, bahwa indeks kita perlahan sudah mulai naik bahkan sudah pernah mencapai 5.300 dan angka terakhir di sekitar 5.100. Hari ini juga mungkin masih up and down, tapi masih di atas 5.000,” ujar Wimboh.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia, per Senin (19/10/2020) pukul 14.00, indeks harga saham gabungan (IHSG) berada di posisi 5.115,68. Adapun, indeks komposit menguat 2,40 persen selama sebulan terakhir dan 0,77 persen selama tiga bulan terakhir.

Baca Juga :  Iran Akhirnya Berhasil Temukan Obat Virus Corona COVID-19, Pasien Membaik Dalam 48 Jam

Melihat indikator tersebut, Wimboh optimistis tren kinerja positif pasar modal bisa terus bertahan hingga akhir tahun. Begitu pula dengan pemulihan lebih lanjut di tahun depan seiring dengan adanya katalis positif dari distribusi vaksin.

“Pemerintah sudah memberikan pipeline sehingga kami yakin ini tidak terlalu lama, sehingga masyarakat bisa beraktifitas kembali seperti sebelumnya meski tidak instan. Di seluruh dunia dikatakan antivirus sudah bisa didistribusikan tahun depan, ini berita positif jadi mari kita siap-siap,” ujar dia.

Wimboh menuturkan, pasar modal merupakan sektor yang pertama kali “diselamatkan” sejak awal krisis akibat pandemi melanda Indonesia. Menurutnya, hal tersebut untuk menjaga sentimen terhadap pasar modal domestik terutama di mata investor asing.

Di awal pandemi, pasar modal memang mengalami koreksi hebat. Puncaknya, pada 24 Maret 2020 lalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) anjlok hingga ke bawah level 4.000 akibat penurunan terus menerus.

“Indeks kita yang tadinya 6300 bisa turun sangat drastis karena sentimen negatif maka kita mengeluarkan kebijakan saat itu yang untuk menenangkan, supaya [IHSG] turun tidak terlalu dalam sehingga kita bisa bertahan dan mencari kebijakan fundamental. Agar sentimen positif bisa muncul. Itu pemikiran awal pada saat kita tahu Indonesia kena Covid,” tuturnya.

Baca Juga :  Siapa Tanggung Biaya Pengobatan Corona?

Adapun beberapa kebijakan awal terkait pasar modal yang dikeluarkan OJK bersama otoritas bursa antara lain memberlakukan batas auto reject bawah (ARB) asimetris untuk menahan penurunan indeks.

Selain itu, OJK juga memperbolehkan emiten untuk melakukan pembelian kembali (buyback) saham tanpa melalui rapat umum pemegang saham (RUPS) dengan tujuan agar emiten dapat berperan aktif menjaga harga sahamnya di pasar.

Selanjutnya, tutur Wimboh, setelah pasar modal mulai dapat teratasi, OJK pun mulai mencari strategi untuk menopang sisi fundamental lain, misalnya restrukturisasi kredit di perbankan, kebijakan penundaan pembayaran kepada perusahaan pembiayaan, dan lainnya.

RID, SUMBER

Leave a Reply