dok lazada Genbisnis.com | Ide bisnis daur ulang mungkin belum banyak terlintas di benak banyak orang. Cosmos Kadarisman tidak menyangka bahwa tumpukan lampu LED rusak bisa menjadi ladang penghasilan. Ia menjalankan usaha rekondisi lampu LED di Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta. Ia mengumpulkan lampu mati, memperbaiki komponen dalamnya, lalu menjualnya kembali dengan harga jauh lebih murah dari produk baru.
Meski bisnisnya baru berjalan sekitar setengah tahun, tapi hasilnya sudah sangat terasa. Keuntungan yang dia hasilkan bisa menembus angka 100% lebih per unit.
“Profitnya itu 100% lebih. Apalagi kalau servisan,” ujarnya dilansir liputan6.com, Sabtu (14/2/2026).
Apa yang ia jalankan adalah contoh nyata ide bisnis daur ulang yang sedang naik daun, yakni dengan memanfaatkan barang yang dianggap orang lain sebagai sampah, mengolahnya kembali, dan menjualnya sebagai produk yang punya nilai.
Banyak orang tidak tahu bahwa lampu LED yang mati belum tentu rusak total. Cosmos menjelaskan, kerusakan paling umum hanya terjadi pada komponen kecil di dalam PCB (printed circuit board), bukan pada titik-titik LED-nya.
“Yang paling rusak cuma komponen resistor. Itu penyebabnya macam-macam. Salah satunya arus listrik yang enggak stabil,” jelasnya.
Karena casing aluminium dan sebagian besar struktur lampu masih utuh, komponen yang rusak cukup diganti. Casing lama dipertahankan, mesin baru dipasang, dan lampu pun siap menyala kembali. Cosmos bahkan mengklaim bahwa hasil rekondisinya bisa lebih optimal secara termal.
“PCB yang lama kita copot, kita jadiin peredam panas juga. Jadi dobel. Harusnya lebih kuat daripada yang pabrikan karena panasnya itu kebagi rata,” ungkapnya.
Selisih harga antara produk rekondisi dan produk baru cukup menarik untuk diperhitungkan. Untuk lampu 5 watt misalnya, harga barunya sekitar Rp15.000, sementara versi rekondisi hanya Rp7.000 — lebih hemat 53%. Untuk lampu berkapasitas lebih besar seperti 60 watt, harga baru bisa menembus Rp100.000, sedangkan hasil rekondisi dijual sekitar Rp90.000. Bagi pelanggan yang membawa lampu sendiri untuk diservis, biayanya bahkan tidak sampai 50% dari harga beli baru.
Dari sisi pelaku bisnis, margin keuntungan per unit bisa melampaui 100%. Konsumen tetap diuntungkan karena harga jauh lebih murah, sementara pelaku bisnis masih meraup margin besar dari selisih harga komponen dan ongkos rakitan. Model bisnis ini menguntungkan dua pihak sekaligus.
Di YouTube, banyak video tutorial mengajarkan metode jumper, yakni menyambung titik LED yang putus menggunakan aluminium foil agar lampu bisa menyala kembali. Cosmos tidak menggunakan cara itu untuk produk yang ia jual.
“Tapi ketika itu diperjualbelikan dalam arti jasa, itu umurnya enggak lama soalnya. Paling sebulan, 2 bulan mati. Yang harusnya tekanan itu diberi merata, akhirnya karena ada satu yang mati, yang lain kelebihan beban,” ungkapnya.
Sebagai gantinya, ia menerapkan sistem ganti mesin, di mana PCB lama dilepas dan diganti dengan yang baru, sementara casing tetap dimanfaatkan. Hasilnya lebih tahan lama, dan dari sisi kecerahan cahaya, ia berani membandingkannya langsung dengan produk baru.
“Kalau terangnya sih bisa diadu,” katanya dengan percaya diri.
Ide bisnis daur ulang yang sedang naik daun ini punya dimensi yang lebih luas dari sekadar keuntungan finansial. Berdasarkan laporan Global E-Waste Monitor 2024 seperti dilansir dari Kementerian Komunikasi dan Digital RI, Indonesia menjadi penghasil limbah elektronik terbesar di Asia Tenggara dengan timbunan mencapai 1,9 juta ton pada 2022.
Sementara itu, lampu LED termasuk kategori sampah elektronik yang mengandung Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Dari seluruh e-waste yang dihasilkan, baru 17,4 persen yang berhasil dikelola dengan benar.
Bisnis rekondisi seperti milik Cosmos secara langsung memperpanjang siklus hidup produk dan menekan volume e-waste yang berakhir di TPA. Ini selaras dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana sebuah pendekatan yang mendorong produk digunakan selama mungkin melalui perbaikan dan daur ulang, bukan pola buang-beli-buang.
Bahkan casing aluminium lampu yang biasanya langsung diambil pemulung untuk dihancurkan pun bisa dimanfaatkan lebih optimal di tangan yang tepat.
“Casing ini aluminium. Jadi mahal, ada harganya. Kalau di rosok, hancur jadinya. Jadi rebutan sama tukang rosok juga,” ungkap Cosmos.
Bisnis rekondisi lampu LED tidak hanya menawarkan satu model layanan. Pilihan paling umum adalah menerima servis lampu milik pelanggan, mengganti komponen atau PCB yang rusak dengan tarif di bawah 50% harga beli baru. Selain itu, pelaku bisnis juga bisa menampung lampu rusak, memperbaikinya, lalu menjualnya kembali sebagai produk rekondisi dengan margin keuntungan di atas 100%. Untuk menjaga pasokan bahan baku, lampu bekas bisa dibeli secara massal dari warga atau instansi yang memiliki banyak unit yang tidak terpakai.
Hampir semua jenis lampu LED berbasis PCB bisa dikerjakan. Cosmos hanya menetapkan satu syarat penting, yakni ongkos servis tidak boleh mendekati atau melebihi harga beli baru.
“Dengan catatan, ketika ongkosnya nanti akan lebih besar daripada beli baru atau bedanya sedikit, kami menyarankan ya mending beli yang baru,” katanya.
Pengecualian berlaku untuk lampu pijar spiral konvensional karena harus kedap dan tidak praktis untuk dikerjakan ulang. Untuk lampu LED tipe lainnya termasuk yang memiliki fungsi darurat rekondisi tetap bisa dilakukan.[]