Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 9 November 2020

Genbisnis.com, JAKARTA — Nilai tukar rupiah diprediksi menguat seiring dengan euforia kemenangan kandidat asal Partai Demokrat, Joe Biden, di Pemilu Amerika Serikat.

Berdasarkan data Bloomberg per penutupan pasar Jumat (6/11/2020) lalu, mata uang rupiah berhasil ditutup di level 14.210 setelah menguat 170 oin atau 1,18 persen terhadap dolar AS.

Rupiah sekaligus menjadi mata uang paling perkasa dibandingkan mata uang Asia lainnya yang juga menguat. Sebagai perbandingan, won Korea menguat 0,69 persen, baht Thailand 0,54 persen, rupee India 0,25 persen, dan yen Jepang 0,14 persen.

Baca Juga : Joe Biden Menang, Rupiah Diprediksi Sentuh 13.800 Pekan Depan

Adapun, pada saat yang sama indeks dolar terpantau terus melemah. Akhir pekan lalu, indeks dolar berada di level 92,22 setelah melemah 0,29 poin atau 0,32 persen dibanding penutupan sebelumnya.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim mengatakan rupiah akan melanjutkan relinya dengan kuat sepanjang pekan ini.

Dia memproyeksikan penguatan rupiah ada di kisaran 100 poin setiap harinya. Bahkan, mata uang Garuda bakal menyentuh level 13.800 di akhir pekan.

Baca Juga : Meski Indonesia Resesi, Rupiah Jadi Kampiun Mata Uang Asia

“Kemarin rupiah selalu menguat di atas 100 poin bahkan terakhir 170 poin, artinya untuk dari 14.200 ke 13.800 itu hanya butuh 400 poin. Sangat wajar kalau seandainya akhir pekan rupiah ke 13.800 dengan asumsi [penguatan] 100 poin per hari,” jelasnya ketika dihubungi Bisnis, Minggu (8/11/2020)

Baca Juga :  Mendukung WFH, PLN Terapkan Layanan Satu Pintu

Lebih lanjut, Ibrahim menjelaskan bahwa pasar mengapresiasi kemenangan Biden bahkan sejak perhitungan suara masih dilakukan, terlihat dari penguatan rupiah yang terjadi sepanjang pekan lalu.

Pasalnya, gaya politik Biden yang sangat bersebrangan dengan petahana Donald Trump dinilai memberikan angina segar terhadap pasar. Salah satunya karena Biden kemungkinan akan membekukan perang dagang antara AS-China dan AS-Uni Eropa.

Baca Juga : Nilai Tukar Rupiah Terhadap Dolar AS Hari Ini, 6 November 2020

Selain itu, Biden juga berencana mengirim tim peneliti ke China untuk mempelajari virus Covid-19. Sikap yang sangat berkebalikan dengan Trump yang menuding China dengan sengaja melepaskan wabah tersebut ke seluruh dunia.

“Ini yang mendapat respons positif pasar. Perang dagang akan berakhir. Lalu Covid-19 mendapat solusi karena sampai sekarang Covid-19 masih terus meluas. Masyarakat ingin perubahan, mereka tidak ingin pandemi terus berlanjut,” tutur Ibrahim.

Baca Juga :  Serial Anime Slam Dunk Bakal Dibikin Film Panjang Tahun ini

Di lain pihak, beberapa kebijakan Biden yang sebelumnya sempat dikhawatirkan pasar juga kemungkinan akan sulit diwujudkan, misalnya wacana untuk menaikkan pajak karena kursi kongres mayoritas diduduki oposisi.

Kemudian masalah stimulus fiskal, kendati tidak sebesar rencana semula, Ibrahim menyatakan Biden hampir pasti akan melanjutkan stimulus fiskal untuk menanggulangi dampak ekonomi akibat pandemi.

“Ini akan menjadi daya gedor sendiri sehingga rupiah terus mengalami penguatan,” imbuhnya.

Dari dalam negeri sendiri, Ibrahim menyebut penguatan mata uang garuda ditopang oleh kondisi fundamental ekonomi Indonesia yang dianggap kebal terhadap krisis, meski rilis PDB kuartal III/2020 menyatakan ekonomi masih terkontraksi dan Indonesia resmi berada dalam resesi.

Menurutnya, strategi bauran ekonomi yang diterapkan pemerintah bersama Bank Indonesia telah teruji di masa-masa krisis, mulai dari krisis 1998 lalu, kemudian momentum perang dagang dan Brexit. Ditambah, ada optimisme kehadiran vaksin Covid-19 di akhir tahun ini.

“Pasar kembali yakin bahwa ekonomi di Indonesia walaupun resesi tapi kemungkinan cepat pulihnya dan rupiah terus menguat walaupun indeks dolar fluktuatif,” pungkas Ibrahim.

(ZQ) sumber.

Leave a Reply