Penjelasan Jokowi Mengenai Impor Garam

Genbisnis – Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia terdiri dari 17.499 pulau dengan panjang garis pantai 81.000 km. Dengan memiliki potensi ini, sewajarnya negara kita dapat menjadi salah satu penghasil garam terbesat di dunia. Namun nyatanya Indonesia masih belum dapat menjadi negara swadaya garam.

Presiden Joko Widodo atau Jokowi mengungkap alasan Indonesia hingga kini masih mengimpor garam. Dia menyebut produksi dan kualitas garam yang dihasilkan masyarakat masih rendah.

“Masih rendahnya produksi garam nasional kita sehingga kemudian cari yang paling gampang yaitu impor garam. Dari dulu gitu terus dan enggak pernah ada penyelesaian,” kata Jokowi saat memimpin rapat terbatas secara virtual, Senin (5/10/2020).

Dia mengatakan, kebutuhan garam nasional pada tahun 2020 sebanyak 4.000.000 ton per tahun. Namun, produksi garam nasional baru mencapai 2.000.000 ton.

Baca Juga :  Libur Untuk Cegah Corona, 32 Siswa Ini Malah Main di Warnet

Jokowi pun meminta para menterinya untuk mencari jalan keluar permasalahan tersebut agar tidak impor lagi. Dia memerintahkan jajarannya melakukan pembenahan besar-besaran pada produksi garam nasional.

“Saya kira ini langkah-langkah perbaikan harus kita kerjakan mulai pembenahan besar-besaran pada supply chain, mulai hulu sampai hilir,” jelasnya.

Menurut Presiden, ada beberapa hal yang bisa dilakukan untuk melakukan pembenahan. Pertama, memperhatikan ketersediaan lahan produksi. Kedua, mempercepat integrasi antara ekstensifikasi lahan garam rakyat yang ada di 10 provinsi produsen garam.

“Harus ada upaya betul untuk produktivitas dan kualitas garam rakyat kita. Artinya, penggunaan inovasi teknologi produksi terutama washing plant harus betul-betul kita kerjakan sehingga pasca produksi itu betul-betul bisa memberikan ketersediaan terutama dalam gudang penyimpanan,” tutur Jokowi.

Baca Juga :  Ramadhan Sebentar Lagi! Berikut Amalan Menyambut Bulan Ramadhan!

RID, SUMBER

Leave a Reply