Saham Tiphone (TELE) Turun 5 persen, Sesaat Setelah Dibuka

GenBisnis, JAKARTA – Setelah suspensi karena terlambat pembayaran obligasi lewat Kustodian Sentral Indonesia (KSEI), PT Mobile Tiphone Indonesia Tbk. (TELE) melanjutkan perdagangan hari ini, Rabu (2020/02/19).
Di pasar terbuka, saham turun 5,08 persen atau 10 poin menjadi TELE Rp187. Sebelumnya pada Senin (2020/02/17), saham berada dalam posisi Rp197.

Kemarin, Bursa Efek Indonesia (BEI) menegaskan pencabutan penghentian sementara perdagangan efek TELE.

Melalui pengumuman yang ditandatangani oleh Kepala Divisi Evaluasi 2 Vera Florida dan Kepala Divisi Perdagangan dan Operasi Peraturan Irvan Susandy, BEI memutuskan untuk mencabut penghentian sementara perdagangan di kedua saham dan obligasi, TELE.

“Oleh karena itu, dari sesi pertama pada 19 Februari 2020, saham dan obligasi dari PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk, Tiphone dapat diperdagangkan di seluruh pasar,” menurut pengumuman Bursa Efek, Selasa (18/02 / 2020).

Keputusan mengacu pada pengumuman Bursa PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) No. KSEI-2479 / DIR / 0220 dari 18 Februari 2020 tentang Pembayaran Bunga Konfirmasi 4 dan penebusan obligasi II Tiphone Tahap I 2019.

KSEI sendiri mengakui siap untuk mendistribusikan produk PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. (TELE) kepada pemegang obligasi pada Rabu (19/02/2020), atau sehari tertunda dari rencana awal, Selasa (2020/02/18).

Baca Juga :  Corona Selesai, Jokowi Optimis Ekonomi Melambung pada 2021

Direktur Kustodian Sentral Efek Indonesia Syafruddin mengirimkan pembayaran bunga keterlambatan dan pelunasan pokok Obligasi II Tahap I Tiphone 2019 terjadi karena melalui rekening KSEI pada saat tertentu, yaitu, pada Selasa (2020/02/18 ).

“Hari ini, dana yang masuk baru [penebusan obligasi], sehingga besok, Rabu (19/2) akan didistribusikan,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Selasa (18/02/2020).

obligasi nominal yang dikeluarkan pada 11 Februari 2019 itu bernilai Rp53 miliar dengan bunga 11,5 persen. Frekuensi pembayaran bunga setiap tiga bulan.

Syafruddin menjelaskan penebusan obligasi harus prosedur yang tepat, yaitu melalui rekening KSEI. Namun, pembayaran sebagian pokok dan bunga yang ditujukan kepada tiga pemegang obligasi dibayarkan sebesar hanya untuk KSEI Rp3,33 miliar.

“Tiphone yang menunda distribusi pokok dan bunga pelunasan obligasi, karena harus sesuai peraturan pelaksanaannya, khususnya melalui KSEI” katanya.

Selain itu, sisa pembayaran klaim obligasi TELE yang tidak dapat dibayarkan kepada KSEI telah dibayarkan langsung ke jumlah pemegang obligasi Rp51,35 miliar.

Pembayaran ditujukan tiga pemegang obligasi upaya PT Cipta Sejahtera, PT Esa Utama Inti Persada, dan PT Deltacomsel Indonesia Distrindo.

Direktur Tiphone Mobile Indonesia Tan Lie Pin mengatakan perusahaan telah membuat kewajibannya untuk melakukan pembayaran kepada pemegang obligasi secara langsung, sebagai bukti telah disampaikan kepada KSEI.

Baca Juga :  70% Efektif Tangkal Corona. Begini Cara Menggunakan Masker Kain

“Namun, KSEI tidak mengakui proses pembayaran yang dilakukan oleh perusahaan, karena dianggap melanggar pembayaran secara teknis,” katanya dalam sebuah pernyataan resmi, Selasa (18/2).

Menurut dia, alasan perusahaan melakukan proses pembayaran langsung kepada pemegang obligasi karena permintaan pemilik perusahaan. Bukti pembayaran tersebut juga telah disampaikan kepada KSEI.

Dalam hubungan ini, perusahaan segera melakukan penarikan dari pemegang obligasi yang telah dibayar dan akan disimpan di KSEI. Hal ini dilakukan agar suspensi saham perusahaan di Bursa Efek Indonesia dibuka.

Manajemen juga membantah seolah melakukan gagal dalam membayar tentang bunga dan pokok obligasi yang sudah matang.

Tan Lie Pin mengatakan ini bahwa kesalahpahaman ini hanya aspek administratif dan bukan oleh hal lain. perusahaan masih memiliki dana internal yang cukup untuk membayar kewajibannya.

Sumber.

Leave a Reply