Siapa Tanggung Biaya Pengobatan Corona?

GenBisnis, JAKARTA – Kasus COVID-19 yang kini dinyatakan sebagai pandemi oleh World Health Organization (WHO) menimbulkan sejumlah pertanyaan di masyarakat. Siapa yang menanggung biaya pengobatannya? Apakah asuransi bisa menanggungnya?

Jawaban dari pertanyaan pertama telah muncul pada 4 Februari 2020 atau 28 hari sebelum ditemukannya warga Indonesia yang positif terjangkit virus corona pada 3 Maret.

Jawaban tersebut muncul dalam bentuk Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/104/2020 tentang Penetapan Infeksi Novel Coronavirus sebagai Penyakit yang Dapat Menimbulkan Wabah dan Upaya Penanggulangannya.

Di dalamnya disampaikan bahwa biaya pengobatan pasien sepenuhnya ditanggung oleh pemerintah, melalui anggaran Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Lalu, bagaimana dengan pertanyaan kedua? Sehari setelah diumumkan ada temuan pasien positif corona di Indonesia, Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) menyatakan bahwa polis asuransi akan memproteksi risiko termasuk penyakit akibat virus corona, dengan sejumlah ketentuan.

Ketua Dewan Pengurus AAJI Budi Tampubolon menyebutkan Ketentuan Umum Polis Standar mengatur bahwa risiko akibat virus corona masuk dalam cakupan proteksi polis asuransi. Namun, terdapat sejumlah pengecualian bagi sejumlah risiko, seperti proteksi dalam kondisi perang dan pandemi.

Kemenkes sudah menyatakan kasus corona sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB) setelah jumlah orang terjangkit di Indonesia terus bertambah. Di tataran global, kondisinya dinyatakan meningkat ke level tertinggi, yakni pandemi, oleh WHO.

Perawatan Pasien Virus Corona

Kendati demikian, hal itu tidak lantas otomatis menggugurkan proteksi asuransi terhadap risiko corona.

Budi menjelaskan AAJI belum dapat memastikan seluruh polis tidak akan lagi menanggung risiko dari penyebaran virus corona. Alasan pertama, pemerintah secara khusus mengatur bahwa biaya pengobatan pasien terjangkit akan ditanggung sepenuhnya oleh negara.

Oleh karena itu, dia menilai akan lebih tepat jika industri asuransi menunggu keputusan resmi dari pemerintah terkait peran sektor tersebut dalam kasus corona.

Baca Juga :  Musim Kawin Paksa Bank Dimulai!

Budi memberikan analogi terkait alasan kedua, yakni mengenai status pandemi dari corona. Menurutnya, akan menjadi janggal jika penyebaran virus corona berstatus pandemi, lalu semua polis di dunia yang mengacu kepada Ketentuan Umum Polis Standar tidak memberikan proteksi bagi risiko akibat COVID-19.

“Kalau WHO menyatakan pandemi, apakah semua asuransi di dunia tidak akan membayar [manfaat kepada pasien terjangkit corona]? Enggak dong. WHO tepat, tapi dia mengatur dalam skala global. Pikir saya akan jauh lebih baik menunggu kebijakan pemerintah,” kata Budi, Kamis (12/3/2020).

Meskipun begitu, dia menegaskan industri asuransi akan berkomitmen penuh memberikan proteksi bagi masyarakat. Kondisi saat ini dinilai dapat menjadi momentum untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya asuransi.

Proteksi Risiko
Ketua Bidang Marketing dan Komunikasi AAJI Albertus Wiroyo Karsono menjelaskan meskipun telah berstatus pandemi, terdapat perusahaan-perusahaan asuransi yang tetap memberikan proteksi risiko bagi COVID-19.

“Memang ada beberapa perusahaan yang memutuskan untuk meng-cover [risiko virus corona]. Mungkin karena mereka melihat ini kesempatan untuk bisa menunjukkan perhatian kepada nasabah,” ujarnya.

Wiroyo berpendapat ketentuan proteksi asuransi terhadap risiko seperti COVID-19 tidak dapat digeneralisir dan perlu dilihat berdasarkan kontrak setiap polis. Oleh karena itu, nasabah diimbau untuk memeriksa kembali cakupan risiko dalam polisnya masing-masing.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Bisnis, terdapat sejumlah perusahaan yang menyatakan akan memproteksi risiko virus corona, di antaranya PT Prudential Life Assurance (Prudential Indonesia), PT Asuransi Jiwa Generali Indonesia, PT AXA Mandiri Financial Services, dan PT Asuransi Jiwa Starinvestama.

Baca Juga :  Ini Regulasi Yang Dimaksud Jokowi Tentang Investasi Microsoft

Direktur Sharia, Government Relations, and Community Investment Prudential Indonesia Nini Sumohandoyo mengungkapkan pihaknya akan tetap memberikan perlindungan terhadap risiko COVID-19 meskipun statusnya naik menjadi pandemi.

Prudential Indonesia menyatakan akan memberikan perlindungan ekstra, manfaat tambahan, dan berbagai kemudahan yang dirancang khusus untuk kasus COVID-19, dalam periode 28 Januari–30 April 2020. Manfaat tersebut berlaku bagi seluruh nasabah, baik yang memiliki atau tidak memiliki manfaat asuransi kesehatan atau rumah sakit.

“Semua nasabah dapat menerima santunan tunai tambahan Rp1 juta per hari jika menjalani rawat inap akibat infeksi virus corona selama periode inisiatif, dihitung sejak tanggal awal dirawat di rumah sakit, selama maksimal 30 hari,” paparnya.

Saat ini, jumlah kasus infeksi virus corona di Indonesia sudah kembali naik menjadi 69 per Jumat (13/3). Artinya, terjadi penambahan 35 kasus dalam waktu 2 hari.

Juru Bicara Penanganan Kasus Virus Corona di Indonesia Achmad Yurianto menyatakan pemerintah akan memperluas lokasi pemeriksaan laboratorium. Selain itu, jumlah test kit untuk virus corona sudah bertambah lebih dari 10.000 sehingga diharapkan dapat membantu penanganan penyebaran COVID-19.

“Pemerintah mulai Senin besok [pekan depan], pemeriksaan laboratorium bukan hanya Balitbangkes Kemenkes tapi bisa di BTKLP [Balai Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit] di Universitas Airlangga, Eijkman [Lembaga Biologi Molekuler Eijkman], dan beberapa tempat sedang job training,” ungkapnya dalam konferensi pers, Jumat (13/3).

Sumber.

One Reply to “Siapa Tanggung Biaya Pengobatan Corona?”

Leave a Reply