Sinyal Pemulihan Komoditas Ekspor Indonesia

Genbisnis – Ditengah kondisi sulit kuartal ke empat tahun 2020, sepertinya amsih ada peluang untuk Indonesia berdiri kembali dengan potensi komoditas ekspornya. Bangkitnya Ekonimi Tiongkok apakah akan berpengaruh terhadap ekonomi Indonesia?

Indeks harga komoditas ekspor Indonesia masih berada dalam tekanan sepanjang tahun berjalan 2020. Kendati demikian, sinyal pemulihan semakin kuat di sisa tahun ini sudah muncul seiring dengan perbaikan ekonomi global.

Mengutip laporan tinjauan kebijakan moneter Bank Indonesia kuartal III/2020, indeks harga komoditas ekspor Indonesia hingga 9 Oktober 2020 telah terkontraksi hingga 4,4 persen.

Kontraksi tersebut lebih besar dibandingkan dengan penurunan kinerja indeks harga komoditas ekspor Indonesia sepanjang 2019 yang hanya 3 persen.

Bahkan, jauh lebih dalam dibandingkan dengan kinerja 2018 yang hanya turun 2,8 persen dan 2017 yang berhasil tumbuh signifikan hingga 21,7 persen.

Adapun, hingga 9 Oktober 2020, penurunan terbesar terjadi pada harga batu bara yang terkoreksi sebesar 20,5 persen, diikuti oleh harga karet dan timah yang masing-masing turun 9,7 persen dan 9,4 persen.

Baca Juga :  Utang Indonesia Menjadi Sorotan Sri Mulyani Beri Penjelasan

Hanya komoditas minyak sawit atau crude palm oil (CPO) dan kopi yang berhasil mencetak kenaikan harga, yaitu masing-masing naik 21 persen dan 3,4 persen.

Kendati demikian, Bank Indonesia menyebutkan bahwa prospek volume perdagangan dunia dan harga komoditas global telah membaik pada paruh kedua tahun ini dibandingkan dengan semester I/2020.

Hal itu sejalan dengan pemulihan ekonomi global yang meningkatkan permintaan komoditas, terutama dari China.

“Permintaan komoditas ekspor meningkat terutama bersumber dari AS dan Tiongkok di tengah penurunan permintaan dari India dan negara emerging market (EM) lainnya,”  tulis Bank Indonesia dalam laporan kebijakan moneter kuartal III/2019, dikutip Senin (19/10/2020).

Menurut Bank Indonesia, indikasi membaiknya volume perdagangan dunia tercermin dari peningkatan kegiatan ekspor berbagai negara dan indeks kontainer logistik global (Drewry World Container Index) yang meningkat pada kuartal III/2020.

Adapun, Bank Indonesia menjelaskan perbaikan harga komoditas ekspor utama Indonesia didorong oleh peningkatan harga CPO dan komoditas logam, seiring dengan meningkatnya permintaan dari China.

Baca Juga :  Dilarang Keluar Rumah, Penghasilan Bus Trans Metro Pekanbaru Turun 40 Persen

Penjualan eceran makanan China yang terus menunjukkan pertumbuhan positif dan temporer dari India untuk restocking telah mendorong harga CPO untuk bergerak lebih tinggi. 

Sementara itu, perbaikan permintaan dari China untuk infrastruktur dan kuatnya permintaan di pasar aset, seperti emas, telah membantu harga-harga logam bergerak naik.

“Harga minyak dunia pada kuartal  III/2020 telah meningkat sejalan dengan pemulihan ekonomi global, tetapi kembali terkoreksi pada September 2020 didorong oleh penurunan compliance rate OPEC+ serta

risk-off di pasar aset yang dipengaruhi rebalancing portofolio investor,” papar Bank Indonesia.

RID, SUMBER

Leave a Reply