Ternyata RI Punya Pabrik Baterai Terbesar

GenBisnis, Jakarta – Era pengembangan mobil listrik di Indonesia perlahan mulai tampak. Pasokan baterai yang menjadi isu utama pengembangan kendaraan listrik sebentar lagi terpecahkan.

Perusahaan asal Korea Selatan, Hyundai Motor Group bekerja sama dengan LG Chem Ltd, berencana membangun pabrik baterai di Indonesia. Nilai investasinya mencapai US$ 9,8 miliar.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Bahlil Lahadalia menjelaskan secara eksklusif kepada CNBC Indonesia perihal rencana Hyundai-LG yang akan bangun pabrik baterai.

Menurut Bahlil, pembangunan pabrik baterai oleh Hyundai-LG ini akan pertama kalinya menjadi yang terbesar dan terintegrasi di dunia.

“Pabrik baterai itu akan dibangun dari hulu sampai hilir. Sampai packing baterai. Ini perusahaan pertama di dunia yang terintegrasi, dari proses tahap pertama sampai dengan jadi baterai. Investasinya nggak main-main, US$ 9,8 billion. Dan sudah bertahap dan sudah 80% kita bicarakan,” jelas Bahlil saat melakukan video conference dengan CNBC Indonesia, Kamis (23/7/2020).

Sebelumnya dikabarkan bahwa, Pimpinan LG Group, Koo Kwang-mo telah melakukan pertemuan dengan Wakil Pimpinan Eksekutif Hyundai Euisun Chung untuk membahas kerja sama baterai dan teknologi masa depan. Namun belum ada keputusan yang dapat diberikan mengenai  kerja sama dua perusahaan ini.

Baca Juga :  Per 1 Juli Pemerintah Berlakukan Aturan Saat Berbelanja

“Hyundai Motor Group berkolaborasi dengan LG Chem dalam berbagai proyek. Namun, belum ada diskusi konkret terkait usaha patungan baterai di Indonesia,” kata Hyundai dalam sebuah pernyataan kepada Reuters, sebulan lalu atau tepatnya 24 Juni 2020.

Saat ini beberapa pabrikan mobil global memang sedang berlomba-lomba untuk mencari sumber produksi baterai guna mempersiapkan diri untuk mengantisipasi perkembangan otomotif ke era mobil listrik. LG Chem sendiri pun sudah mendirikan usaha dengan beberapa produsen mobil, seperti General Motors Co, Hyundai, Tesla, dan Geely Automobile

Pernyataan ini juga sejalan dengan langkah Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan, yang akan menghentikan ekspor raw material, termasuk Nikel dan Kobalt.

Luhut berambisi di masa mendatang Indonesia menjadi negara terpandang karena lantaran menjadi negara produsen baterai lithium terbesar kedua di dunia.
 
“Kenapa pemerintah melihat nikel ore ini penting? Ini karena kendaraan listrik dibutuhkan untuk mencapai Paris Agreement 2030. Artinya, international combustion akan hilang pada 2030 dan mereka akan lari ke litium baterai. Dan kita akan menjadi produsen litium baterai nomor dua terbesar di dunia,” tutur Luhut dalam acara Indonesia Moving Forward, pada Awal Juni 2020.

Baca Juga :  Kata Pemkot Surabaya Mengenai Jumlah Kasus COVID-19 yang Terus Naik

Tepat setahun lalu, Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah mengeluarkan Peraturan Presiden No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Saat ini sedang menunggu aturan turunan berupa petunjuk teknis (Juknis) di kementerian perindustrian.

(HG) Sumber.

Leave a Reply