genbisnis.com/ |-Keindahan alam Jawa Barat sejak lama dikenal sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata Indonesia. Lanskapnya yang beragam mulai dari pegunungan yang menjulang, hamparan kebun teh yang hijau membentang, persawahan luas yang menenangkan mata, hingga garis pantai dengan debur ombak yang khas—menjadi magnet bagi wisatawan domestik maupun mancanegara. Potensi inilah yang terus dijaga dan diperkuat oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat agar tetap bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.
Komitmen tersebut ditegaskan melalui berbagai kebijakan yang berpihak pada keterbukaan akses ruang publik dan destinasi wisata alam. Pemerintah daerah ingin memastikan bahwa keindahan alam bukan hanya menjadi milik segelintir orang, melainkan dapat diakses tanpa diskriminasi, baik oleh masyarakat yang mampu secara ekonomi maupun yang memiliki keterbatasan. Alam, pada hakikatnya, adalah ruang bersama yang harus memberi manfaat seluas-luasnya.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menegaskan bahwa keindahan alam tersebut harus bisa dinikmati bersama, tanpa adanya pungutan liar atau penguasaan oleh kelompok tertentu. Sikap tegas ini muncul sebagai respons terhadap fenomena yang kerap terjadi di sejumlah titik wisata dadakan. Ketika sebuah lokasi alam mendadak viral dan ramai dikunjungi, tidak jarang muncul oknum yang memanfaatkan situasi dengan melakukan pungutan tidak resmi, terutama dalam bentuk parkir liar.
Untuk itu, dia mengingatkan masyarakat agar tidak melayani dan tidak memberikan uang kepada tukang parkir liar yang kerap muncul setelah suatu lokasi menjadi ramai dan indah. Imbauan ini bukan sekadar soal uang, tetapi tentang menjaga ketertiban, keadilan, dan keberlanjutan pengelolaan destinasi. Jika praktik semacam ini dibiarkan, dampaknya bukan hanya merugikan pengunjung, tetapi juga merusak ekosistem wisata secara keseluruhan.
Fenomena destinasi yang viral sesaat memang menjadi tantangan tersendiri di era media sosial. Banyak lokasi alam yang sebelumnya tersembunyi, tiba-tiba dipadati pengunjung setelah fotonya tersebar luas. Sayangnya, lonjakan kunjungan ini sering tidak diimbangi dengan pengelolaan yang baik. Akibatnya, sampah menumpuk, fasilitas rusak, dan ketertiban terganggu.
Kondisi tersebut dinilai merusak keindahan dan sering kali membuat suatu spot wisata hanya ramai sesaat, kemudian ditinggalkan dalam keadaan kotor dan tak terurus. “Seringkali spot seperti itu muncul sesaat, kemudian hilang dan ditinggalkan, seperti bangkai yang tak ada orang mempedulikan,” tegasnya. Pernyataan ini menjadi pengingat keras bahwa tanpa kesadaran kolektif, keindahan alam bisa berubah menjadi masalah lingkungan yang serius.
Jawa Barat sendiri dianugerahi bentang alam yang luar biasa. Dari kawasan pegunungan seperti di wilayah Priangan, udara sejuk Puncak dan Lembang, hingga panorama laut selatan yang eksotis, semuanya menyimpan potensi besar. Dedi Mulyadi menggambarkan kekayaan ini dengan penuh kebanggaan. Jabar memiliki keindahan alam, mulai dari gunung yang menjulang tinggi, hamparan kebun teh yang membentang bak permadani, sawah yang luas, hingga laut yang bergemuruh sebagai anugerah sekaligus keberkahan yang memiliki nilai estetika tinggi.
Keindahan tersebut bukan hanya soal visual, tetapi juga menyangkut nilai ekologis, sosial, dan ekonomi. Alam yang terjaga mampu menghidupi masyarakat sekitar melalui sektor pariwisata, pertanian, hingga ekonomi kreatif. Namun, semua itu hanya dapat berjalan optimal jika dikelola dengan prinsip keberlanjutan dan tanggung jawab bersama.
Karena itu, pemerintah daerah menekankan pentingnya menjaga ruang publik sebagai milik bersama. “Setiap ruang publik dan destinasi alam yang dihadirkan bukan untuk kepentingan sekelompok orang, melainkan untuk semua orang. Karena itu, keindahan yang sudah tercipta harus dirawat dan dijaga bersama, agar dapat dinikmati secara berkelanjutan oleh generasi sekarang maupun mendatang,” tegasnya. Pesan ini menegaskan bahwa pelestarian alam bukan hanya tugas pemerintah, tetapi juga tanggung jawab seluruh elemen masyarakat.
Upaya menjaga keindahan alam dapat dimulai dari langkah sederhana. Pengunjung diharapkan tidak membuang sampah sembarangan, tidak merusak fasilitas, serta menghormati aturan yang berlaku di setiap destinasi. Di sisi lain, pemerintah juga perlu terus memperkuat pengawasan, menyediakan sarana prasarana yang memadai, serta mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Kesadaran kolektif menjadi kunci utama. Tanpa partisipasi aktif warga, kebijakan sebaik apa pun akan sulit berjalan efektif. Oleh sebab itu, Dedi berharap kesadaran kolektif masyarakat dapat tumbuh, sehingga keindahan alam Jawa Barat tetap lestari, tertib, bersih, dan benar-benar menjadi milik bersama. (SG)
Harapan tersebut bukanlah hal yang berlebihan. Dengan kolaborasi yang kuat antara pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, Jawa Barat berpeluang besar menjadi contoh pengelolaan destinasi alam yang inklusif dan berkelanjutan. Keindahan yang ada bukan sekadar latar untuk berfoto, melainkan warisan berharga yang harus dijaga.
Pada akhirnya, merawat alam berarti merawat masa depan. Jika hari ini masyarakat mampu menjaga kebersihan, ketertiban, dan keadilan dalam mengakses ruang publik, maka generasi mendatang pun masih bisa menikmati gunung yang hijau, kebun teh yang menenangkan, sawah yang subur, dan laut yang tetap bergemuruh indah. Jawa Barat bukan hanya tentang panorama, tetapi tentang komitmen bersama untuk menjadikannya rumah yang nyaman bagi semua.