Teknologi Surya Selamatkan Nelayan Jayapura

5 minutes reading
Saturday, 31 Jan 2026 15:49 14 Redaksi

genbisnis.com/ – Sektor perikanan menjadi salah satu lokomotif pertumbuhan ekonomi di Indonesia, termasuk di Kota Jayapura, Papua. Perikanan di Bumi Cenderawasih ini sangat melimpah, khususnya di perairan utara (Samudera Pasifik) dan selatan (Laut Arafura), dengan potensi hasil laut mencapai 1,3 juta ton per tahun. Produk unggulan dari komoditas itu, meliputi ikan tuna, cakalang, dan tongkol.

Kota Jayapura menjadi salah satu wilayah di Papua yang memiliki potensi perikanan sangat besar karena berbatasan langsung dengan Samudera Pasifik. Produksi ikan tangkap di Kota Jayapura setiap tahun mencapai 45 ton.

Sektor perikanan juga merupakan andalan daerah berjuluk "Port Numbay" tersebut, dengan angka konsumsi ikan yang tinggi 93,5 persen. Di sisi lain, masalah utama yang dihadapi nelayan, ketika musim ikan melimpah adalah fasilitas pengeringan.

Nelayan Pulau Kosong, Kampung Kayo Pulo, misalnya, saat hasil tangkapan banyak, mereka mengeringkan ikan di sepanjang jembatan yang merupakan tempat lalu-lalang warga, sehingga memungkinkan adanya kontaminasi dari bakteri dan nelayan mengalami banyak kerugian.

Berangkat dari permasalahan itu, tim pengabdian dari Universitas Cenderawasih, perguruan tinggi negeri di Papua, menawarkan teknologi surya sebagai solusi untuk mengeringkan ikan, tanpa takut terkontaminasi bakteri.

Teknologi surya adalah alat penyimpanan yang telah dimodifikasi dengan tutup efek rumah kaca agar ikan yang dikeringkan mutunya terjaga dan tidak terkontaminasi oleh bakteri, dengan kadar air dapat terkontrol dengan baik.

Penggunaan tenaga surya ini, sebenarnya bertujuan untuk menghemat beban penggunaan energi listrik pada rumah tangga nelayan di daerah itu. Tim pengabdian Universitas Cenderawasih merancang alat ini menggunakan tenaga dari energi matahari yang ditangkap oleh solar cell (sel surya), kemudian disimpan dalam baterai dan diubah menjadi energi listrik yang dialirkan ke tempat penyimpanan ikan.

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan, Jurusan Ilmu Kelautan dan Perikanan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA), Unversitas Cenderawasih (Uncen) Popi L Ayer mengatakan, saat musim ikan melimpah dan belum tersedia fasilitas pengeringan, kerugian yang dialami melayani cukup besar, di mana tingkat kerusakan ikan bisa mencapai 75 persen, sementara masa simpan ikan segar hanya 1-2 hari.

Nelayan di Pulo Kosong juga sering membuat ikan asin, sehingga selain alat pengering dengan berbasis efek rumah kaca yang ditawarkan, ada pula teknologi lainnya, yaitu tempat penyimpanan ikan yang dirancang, tanpa membebani biaya listrik dari masyarakat karena diatur menggunakan solar sel.

"Dengan adanya inovasi ini, masa simpan ikan bisa 3-5 hari. Kemudian hasil tangkap yang mengalami kerusakan, yang awalnya 75 persen bisa kurang dari 20 persen," kata Popi L Ayer, kepada ANTARA.

Kemudian, kapasitas ikan yang dikeringkan juga mengalami kenaikan, dari sebelumnya hanya 100 kilogram per pekan, naik menjadi 300 kilogram.

Menyentuh nelayan

Di RT 02 Pulau Kosong, Kampung Kayo Pulo, Distrik Jayapura Selatan, ditempati sekitar 150 kepala keluarga (KK), yang 99,9 persen penduduknya merupakan nelayan. Di pulau seluas tiga hektare itu terdapat 20 kelompok nelayan.

Perwakilan kelompok nelayan Pulau Kosong Marzuki mengatakan dalam setahun nelayan hanya bisa mendapatkan hasil tangkapan yang banyak pada periode Februari hingga Agustus.

Pada Januari, September, Oktober, November, dan Desember hasil tangkap nelayan sangat berkurang, bahkan seringkali nelayan tidak mendapatkan ikan sama sekali.

Hasil tangkap nelayan Pulau Kosong, saat musim ikan bisa mencapai ratusan ton per bulan, di mana masing-masing perahu (kelompok) itu mendapat sekitar 15 ton per bulan.

Produksi ikan yang melimpah, kadang tidak semua terjual atau dikonsumsi sampai habis, sehingga sebagian harus dibuang karena busuk. Dengan demikian, program pengabdian dari Universitas Cenderawasih bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi Tinggi (Kemdiktisaintek), sebagai wujud hadirnya negara, sangat membantu masyarakat dalam mengeringkan ikan, tanpa takut terkontaminasi dengan bakteri, saat dijemur di atas jembatan.

Proses pengeringan ikan menggunakan teknologi surya sangat menghemat waktu. Jika sebelumnya memanfaatkan sinar matahari bisa sampai 3-4 hari, sedangkan dengan teknologi surya ini hanya membutuhkan waktu sekitar 4-5 jam.

Teknologi surya ini juga memberikan pekerjaan bagi istri-istri nelayan untuk mengeringkan ikan, baik untuk kebutuhan keluarga maupun untuk dijual ke pasar.

Wakil Menteri Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie mengatakan inovasi berbasis sains dan teknologi memberikan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat.

Teknologi pengeringan ikan memungkinkan peningkatan hasil pengolahan ikan sehingga inovasi ini penting dipertahankan.

Program ini menjadi wujud konkret arah kebijakan “Diktisaintek Berdampak” bahwa ilmu pengetahuan dan teknologi kampus hadir dalam bentuk solusi yang langsung dirasakan masyarakat.

Kementerian Pendidikan Tinggi Sains dan Teknologi mendukung penuh teknologi penyimpanan bertenaga surya, sistem pengeringan berbasis efek rumah kaca yang dihadirkan Universitas Cenderawasih serta akan terus mendorong pemanfaatan teknologi tepat guna di pulau-pulau kecil.

Kelembagaan nelayan

Ketua Program Studi Ilmu Kelautan dan Perikanan Unversitas Cenderawasih Popi L. Ayer menilai pentingnya penguatan kelembagaan nelayan guna meningkatkan kemandirian, profesionalisme, dan kesejahteraan mereka.

Tanpa kelembagaan kuat, nelayan tetap berada di posisi tawar rendah, sehingga pendampingan harus dilakukan pemerintah daerah. Pendampingan ideal mencakup pembentukan dan penguatan kelompok nelayan, koperasi pesisir, dan BUMK/BUMDes pesisir.

Selain itu, juga penting adanya pendampingan administrasi yang meliputi legalitas kelompok, akses program pemerintah, dan tata kelola keuangan sederhana.

Pemerintah sebagai enabler bukan sekadar menyediakan dana, tetapi juga menyediakan menyediakan lingkungan kebijakan yang memungkinkan nelayan berkembang serta menjamin akses terhadap modal, pasar, informasi, teknologi tepat guna. Karena itu, bantuan fisik harus diikuti pendampingan kapasitas, sehingga bantuan peralatan tidak cepat rusak atau terbengkalai karena tidak terpakai.

Pendampingan berbasis karakter sosial dan budaya juga perlu menjadi perhatian. Hal ini berkaitan dengan pengakuan hak ulayat laut, keterlibatan struktur adat pesisir (ondoafi, kepala kampung, dewan adat), pendekatan komunal, karena pendampingan yang mengabaikan adat sering memicu konflik dan resistensi sosial.

LAINNYA