Genbisnis.com | Beberapa tahun terakhir, kondisi PT. Garuda Indonesia Tbk cukup sering jadi sorotan. Bukan cuma soal layanan atau operasional, tapi lebih ke kondisi keuangannya yang sempat tertekan cukup dalam. Sejak pandemi, industri penerbangan memang jadi salah satu yang paling terasa dampaknya. Penumpang turun drastis, tapi biaya tetap jalan. Dari situ, masalah mulai terasa makin kompleks.
Di tengah situasi itu, Garuda mengambil langkah right issue. Secara sederhana, perusahaan mencoba menambah modal dengan menerbitkan saham baru. Kalau dilihat sekilas, ini langkah yang masuk akal. Perusahaan butuh dana, dan ini salah satu cara yang tersedia.
Tapi semakin dipikir, rasanya keputusan seperti ini nggak sesederhana itu. Nggak cuma soal “butuh dana lalu cari dana”. Ada banyak hal lain yang mungkin ikut dipertimbangkan—kondisi pasar, kepercayaan investor, bahkan cara manajemen melihat masa depan perusahaannya sendiri. Dari sini, saya mulai merasa menarik untuk melihatnya bukan cuma dari teori keuangan biasa, tapi juga dari sisi behavioral—bagaimana keputusan itu diambil, bukan cuma apa keputusannya.
Ketika Tekanan Keuangan Jadi Titik Awal
Kalau dilihat, tekanan yang dialami PT. Garuda Indonesia Tbk bukan muncul tiba-tiba. Memang pandemi jadi pemicu besar, tapi di sisi lain perusahaan juga sudah punya beban yang cukup berat sebelumnya. Jadi ketika pendapatan turun, dampaknya langsung terasa.
Dalam kondisi seperti ini, pilihan manajemen jadi terbatas. Nggak semua keputusan bisa diambil dengan leluasa. Kadang bukan soal memilih yang terbaik, tapi memilih yang paling memungkinkan. Dan di titik ini, saya mulai sadar kalau teori yang sering kita pelajari—yang semuanya terlihat rasional—nggak selalu sepenuhnya terjadi di dunia nyata.
Right Issue: Solusi yang Masuk Akal, Tapi…
Dari sisi teori, right issue itu solusi yang cukup “aman”. Perusahaan bisa dapat dana tanpa nambah utang. Secara struktur, ini bisa bantu memperbaiki kondisi keuangan.
Tapi di sisi lain, ada konsekuensi yang nggak bisa dihindari. Saham lama jadi terdilusi, dan investor bisa punya persepsi yang berbeda-beda. Ada yang melihat ini sebagai langkah perbaikan, tapi ada juga yang justru melihatnya sebagai tanda perusahaan sedang kesulitan.
Menurut Brealey, Myers, dan Allen (2019), keputusan pendanaan seperti ini memang nggak bisa dilepaskan dari bagaimana pasar akan merespons. Jadi walaupun secara konsep benar, belum tentu diterima dengan cara yang sama oleh investor.
Soal Timing: Apakah Ini Waktu yang Tepat?
Di sini mulai masuk konsep market timing. Secara ideal, perusahaan menerbitkan saham saat kondisi pasar lagi bagus—harga saham stabil, investor optimis, dan sebagainya.
Tapi dalam kasus seperti ini, saya jadi bertanya: apakah benar timing-nya dipilih karena “paling tepat”? Atau sebenarnya karena “harus sekarang”?
Penelitian oleh Ariswati, Henrika, dan Kesuma (2025) menunjukkan kalau kemampuan membaca waktu pasar itu memang nggak mudah, apalagi dalam kondisi yang tidak stabil. Bahkan sering kali hasilnya nggak konsisten.
Jadi bisa saja, dalam kondisi seperti yang dialami Garuda, timing bukan lagi soal strategi terbaik—tapi soal keterbatasan pilihan.
Ketika Keputusan Nggak Sepenuhnya Rasional
Di bagian ini, kita mulai merasa pendekatan Behavioral Corporate Finance jadi masuk akal. Karena ternyata, keputusan keuangan itu nggak selalu “dingin” dan penuh perhitungan seperti yang kita bayangkan.
Menurut Baker dan Wurgler (2013), manajer bisa dipengaruhi oleh bias, seperti terlalu optimis terhadap masa depan perusahaan. Dalam kondisi tertekan, hal seperti ini justru bisa makin kuat. Ada keyakinan bahwa perusahaan akan pulih, jadi keputusan tetap diambil dengan harapan ke depan akan lebih baik.
Selain itu, ada juga konsep escalation of commitment (Staw, 1981), yaitu kecenderungan untuk tetap melanjutkan keputusan yang sudah diambil, meskipun risikonya mulai terlihat.
Bukan berarti ini salah. Tapi lebih ke menunjukkan kalau keputusan bisnis itu tetap melibatkan manusia—dengan cara berpikirnya, keyakinannya, dan kadang juga keraguannya.
Reaksi Investor: Nggak Selalu Sama
Dari sisi investor, respons terhadap right issue jelas beda-beda. Ada yang melihat ini sebagai langkah positif, tapi ada juga yang jadi lebih hati-hati.
Menurut Myers dan Majluf (1984), dalam kondisi asimetri informasi, investor sering kali menganggap penerbitan saham baru sebagai sinyal negatif. Karena mereka berpikir, “kenapa perusahaan butuh dana sekarang?”
Di sini jadi kelihatan kalau pasar nggak selalu bereaksi berdasarkan data saja, tapi juga berdasarkan persepsi. Dan persepsi ini bisa berbeda-beda tiap orang.
Di Antara Teori dan Kenyataan
Kalau dipikir-pikir, keputusan right issue ini ada di tengah-tengah. Secara teori, masuk akal. Tapi kalau dilihat dari kondisi saat itu, situasinya nggak ideal.
Ada tekanan, ada keterbatasan, dan mungkin juga ada faktor psikologis yang ikut bermain. Dan justru di sini menurut saya menarik—karena ternyata keputusan keuangan nggak selalu sesederhana yang kita pelajari di kelas.
Penutup
Dari kasus ini, kita jadi melihat bahwa keputusan keuangan perusahaan itu bukan cuma soal angka. Ada konteks, ada kondisi, dan ada cara berpikir di baliknya.
Pendekatan Behavioral Corporate Finance membantu kita melihat sisi lain yang sering nggak terlihat. Bahwa di balik laporan keuangan dan strategi perusahaan, tetap ada manusia yang mengambil keputusan. Dan mungkin, memahami itu justru sama pentingnya dengan memahami teorinya.
Penyusun: Muhamad Sahdian, Fatimah Zahra, Regina Pallasia, dan Selvi Yanasari (Mahasiswa Manajemen Universitas Pamulang)
Daftar Pustaka
Ariswati, L. D., Henrika, M., & Kesuma, M. R. (2025). Pengaruh Market Timing dan Stock Selection Terhadap Kinerja Reksa Dana Saham. Journal of Artificial Intelligence and Digital Business (RIGGS).
Baker, M., & Wurgler, J. (2002). Market Timing and Capital Structure. The Journal of Finance, 57(1), 1–32.
Baker, M., & Wurgler, J. (2013). Behavioral Corporate Finance: An Updated Survey.
Brealey, R. A., Myers, S. C., & Allen, F. (2019). Principles of Corporate Finance.
Myers, S. C., & Majluf, N. S. (1984). Corporate Financing and Investment Decisions When Firms Have Information That Investors Do Not Have.
Staw, B. M. (1981). The Escalation of Commitment to a Course of Action.