Generasi Z (lahir 1997-2012) tumbuh sebagai digital native dengan akses tak terbatas ke e-commerce, pinjaman online (pinjol), buy now pay later (BNPL), serta media sosial yang memicu Fear of Missing Out (FOMO). Kondisi ini menciptakan risiko finansial unik: utang konsumtif struktural akibat kemudahan transaksi dan tekanan sosial digital. Artikel ini menganalisis akar penyebab utang konsumtif Gen Z, hubungan antara FOMO dan keputusan impulsif, serta menawarkan strategi mitigasi risiko. Temuan menunjukkan bahwa rendahnya literasi keuangan dan self-control dalam ekosistem digital menjadi faktor dominan. Kesimpulan menekankan perlunya edukasi keuangan sejak dini, regulasi perlindungan konsumen digital, serta pembentukan kebiasaan finansial sehat berbasis kesadaran risiko.
Kata Kunci: risiko finansial, Generasi Z, utang konsumtif, FOMO, ekonomi digital.
Pendahuluan
Generasi Z adalah generasi pertama yang tidak pernah mengenal dunia tanpa internet. Mereka lahir dan besar di tengah gempuran layar, notifikasi, dan kemudahan satu klik menuju apa pun yang diinginkan. Dalam sekejap, seorang mahasiswa atau fresh graduate bisa membeli sneakers edisi terbatas, liburan ke luar kota, atau gadget terbaru—tanpa perlu memiliki uang tunai saat itu juga. Caranya? Pinjaman online (pinjol) dan fitur buy now pay later (BNPL).
Namun, di balik kemudahan itu mengintai risiko finansial serius: utang konsumtif yang menumpuk, bunga membengkak, hingga jeratan utang lintas platform. Belum lagi faktor psikologis bernama FOMO (Fear of Missing Out) yang membuat Gen Z merasa harus ikut tren agar tidak dianggap ketinggalan zaman. Artikel ini akan menganalisis akar masalah tersebut serta memberikan panduan praktis mengelola risiko utang dan FOMO.
Sebelum menganalisis risiko, penting memahami profil finansial Generasi Z. Menurut data OJK (2022) dan Deloitte (2023), ada empat karakteristik utama yang membuat mereka rentan terhadap utang konsumtif.
Pertama, Generasi Z cenderung lebih percaya pada rekomendasi digital (influencer, TikTok, selebritas medsos) dibanding nasihat orang tua atau profesional. Akibatnya, mereka mudah terpengaruh gaya hidup konsumtif tanpa menyadari banyak konten tersebut adalah pemasaran terselubung.
Kedua, pola pikir mereka terhadap uang cenderung jangka pendek. Uang dianggap sebagai alat untuk memenuhi keinginan saat ini, bukan cadangan masa depan. Banyak dari mereka tidak memprioritaskan dana darurat atau tabungan.
Ketiga, akses terbuka ke pinjol dan BNPL sejak usia muda menciptakan ilusi “uang gratis”. Mereka merasa mampu membeli barang mahal tanpa uang tunai di muka, padahal bunga dan denda bisa mengubah cicilan kecil menjadi utang besar.
Keempat, tingkat literasi keuangan masih rendah. Survei OJK (2022) mencatat indeks literasi nasional baru 49,68%, sementara inklusi keuangan mencapai 85,10%. Artinya, banyak anak muda menggunakan produk keuangan digital tanpa memahami konsekuensi jangka panjang.
Keempat karakteristik ini menciptakan risk gap berbahaya: mereka sangat melek teknologi tetapi tidak dibekali pemahaman risiko yang memadai.
Utang konsumtif adalah utang untuk membeli barang atau jasa yang nilainya menurun (depresiasi), bukan untuk aset produktif. Dalam konteks Gen Z, bentuknya antara lain: belanja fashion via BNPL, cicilan gadget 12 bulan untuk ponsel seharga tiga kali lipat gaji bulanan, atau pinjol darurat untuk traktir teman.
Risikonya tidak hanya bunga (2–4% per bulan atau 24–48% per tahun), tetapi juga utang berganda (meminjam dari platform A untuk membayar platform B) dan risiko gagal bayar yang berujung pada penagihan agresif debt collector serta masuk daftar hitam SLIK OJK. Catatan kredit buruk ini bisa menyulitkan pengajuan KPR, KKB, atau pinjaman usaha di masa depan.
Selain dampak finansial, utang konsumtif juga berdampak pada kesehatan mental. Stres akibat tagihan menumpuk, telepon dari debt collector, dan rasa bersalah dapat mengganggu konsentrasi kuliah maupun kinerja kerja.
Mitigasi:
FOMO (Fear of Missing Out) didefinisikan Przybylski et al. (2013) sebagai “kecemasan bahwa orang lain mungkin memiliki pengalaman berharga yang tidak kita ikuti”. Dalam praktiknya, FOMO mendorong tiga perilaku boros: membeli barang karena orang lain memilikinya, berlibur atau nongkrong mahal demi konten medsos, dan meng-upgrade gaya hidup agar “selevel” dengan teman-teman.
FOMO bukan sekadar kurang disiplin; ia adalah risiko psikologis yang nyata. Saat dilanda FOMO, otak melepaskan dopamin sebagai respons terhadap antisipasi “pengalaman berharga”. Sayangnya, setelah FOMO reda, yang tersisa adalah tagihan menumpuk dan tekanan finansial.
Media sosial dirancang untuk memicu FOMO. Fitur seperti story, live update, dan notifikasi “teman Anda membeli ini” menciptakan rasa urgensi palsu. Gen Z yang menghabiskan 4-5 jam per hari di media sosial menjadi kelompok paling rentan.
Mitigasi:
Kasus 1: Rani (21, mahasiswa)
Rani tergiur Shopee PayLater untuk membeli sneakers edisi terbatas Rp1,2 juta. Uang bulanannya hanya Rp1,8 juta. Cicilan 3 bulan terasa ringan di awal, tetapi di bulan kedua ia harus membayar cicilan sepatu bersamaan dengan tagihan listrik dan kuota. Karena tidak cukup, ia meminjam dari pinjol lain. Dalam empat bulan, utangnya membengkak menjadi Rp4,7 juta. Ia akhirnya ditelepon debt collector dan terpaksa meminjam uang dari orang tua.
Kasus 2: Dito (23, karyawan swasta)
Dito belajar investasi digital (reksadana, saham) sejak kuliah. Ia menggunakan BNPL hanya untuk pembelian produktif seperti kursus online dan laptop kerja. Ia memiliki aturan tegas: “Tidak boleh berutang untuk gaya hidup.” Ia juga mengalokasikan 60% gaji untuk tabungan dan investasi. Hasilnya, skor kredit sehat, bebas FOMO, dan memiliki dana darurat 6 bulan.
Perbedaan utama Rani dan Dito bukan pada pendapatan, tetapi pada literasi keuangan dan pengendalian diri dalam menghadapi godaan digital.
Kesimpulan
Generasi Z menghadapi lanskap finansial yang jauh lebih kompleks dari generasi sebelumnya. Kemudahan akses kredit digital dan tekanan psikologis FOMO telah menciptakan risiko utang konsumtif sistemik. Jika tidak dikelola, risiko ini dapat mengganggu stabilitas keuangan jangka panjang, merusak kesehatan mental, bahkan menghancurkan prospek masa depan karena catatan kredit buruk.
Solusinya bukan menghindari teknologi—itu tidak realistis. Yang dibutuhkan adalah kesadaran risiko dan kemampuan mengelola godaan. Generasi Z yang cerdas finansial adalah mereka yang bisa membedakan antara “mampu membeli tunai” dan “sekadar disetujui untuk berutang”, serta berani mengatakan tidak pada FOMO demi masa depan yang lebih tenang.
“Utang konsumtif bukan alat naik kelas sosial, tetapi jebakan yang membuat Anda terpuruk setelah tren berlalu.”
Sumber Referensi;
Otoritas Jasa Keuangan (OJK). (2024). Siaran Pers: Pentingnya Literasi Keuangan Bagi Pelajar, OJK Gelar Edukasi Keuangan SMA Se-Jaksel. Jakarta: OJK.
Infobank News. (2023). Generasi Muda Terjebak Pinjol, Komisi XI DPR: Perlu Edukasi Agar Tak Salah Arah. Jakarta: Infobank.
Aisyah, Siti. (2025). Pengaruh Fear of Missing Out (FOMO) dan Flexing terhadap Penggunaan Pinjaman Online dengan Literasi Keuangan sebagai Variabel Moderasi (Studi Empiris pada Generasi Z di Kabupaten Banyumas). [Skripsi]. Purwokerto: UIN Prof. K.H. Saifuddin Zuhri.
Usaid Iuwash Tangguh (mengutip OJK & POJK). (2026). Paylater Bisa Bikin Gagal KPR! Ini Fakta Risiko Kredit Macet dan Catatan SLIK OJK. Jakarta: USAID.
Penulis: Dinda Amelia (Mahasiswa Universitas Pamulang)