dok.jatim.antaranews.com genbisnis.com/ – Di tengah laju transformasi digital yang kian cepat, anak-anak usia sekolah dasar kini tumbuh sebagai generasi yang akrab dengan gawai, internet, dan beragam aplikasi digital. Tantangannya bukan lagi sekadar mengenalkan teknologi, melainkan memastikan bahwa teknologi digunakan secara aman, bijak, dan produktif sejak dini. Kesadaran inilah yang mendorong PT Pertamina (Persero) menghadirkan program Information, Communication & Technology (ICT) Goes to School ke Sekolah Dasar Negeri (SDN) II Kandangan dan SDN III Kandangan, Surabaya.
Pada Sabtu di Surabaya, Jawa Timur, suasana sekolah yang biasanya diisi kegiatan belajar mengajar rutin berubah menjadi ruang belajar interaktif yang penuh antusiasme. Ratusan siswa kelas IV hingga VI tampak bersemangat mengikuti rangkaian materi literasi digital yang disampaikan dengan bahasa sederhana, visual menarik, dan pendekatan bermain sambil belajar. Program ini menjadi bukti bahwa literasi digital tidak harus disampaikan dengan cara kaku, melainkan bisa dikemas menyenangkan dan relevan dengan dunia anak-anak.
Senior Vice President Enterprise Information Technology Pertamina (Persero), Yoke Susatyo, menegaskan bahwa kehadiran Pertamina di lingkungan sekolah dasar merupakan bagian dari komitmen jangka panjang perusahaan dalam pembangunan sumber daya manusia Indonesia.
“Kami terus mengambil peran aktif dalam mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini,” kata Yoke Susatyo.
Pernyataan tersebut mencerminkan pandangan bahwa investasi terbesar bagi masa depan bangsa bukan hanya infrastruktur fisik, tetapi juga kapasitas manusia yang mampu beradaptasi dengan perubahan zaman. Di era digital, kemampuan dasar seperti memahami risiko dunia maya, menjaga data pribadi, dan memanfaatkan teknologi untuk belajar menjadi kompetensi penting yang perlu diperkenalkan sedini mungkin.
Program ICT Goes to School tidak berjalan sendiri. Kegiatan ini melibatkan Perwira Pertamina Group dari fungsi ICT, mulai dari level manajerial hingga direksi. Keterlibatan langsung para profesional teknologi informasi ini memberi nilai tambah tersendiri. Bagi siswa, mereka tidak hanya menerima materi, tetapi juga bertemu figur-figur nyata yang bekerja di bidang teknologi. Sementara bagi sekolah, kehadiran para praktisi menjadi jembatan antara dunia pendidikan dasar dan realitas industri digital.
Dalam pemaparannya, Yoke menjelaskan bahwa literasi digital yang diberikan dalam program ini mencakup tiga aspek utama. Pertama, pemanfaatan teknologi sejak dini untuk mendukung pembelajaran dan pengembangan diri. Anak-anak diajak memahami bahwa gawai dan internet bukan hanya sarana hiburan, tetapi juga alat untuk belajar, mencari informasi, dan mengasah kreativitas.
Kedua, kesadaran akan pentingnya keamanan informasi dan perlindungan data pribadi. Pada bagian ini, siswa dikenalkan dengan konsep sederhana tentang kata sandi, privasi, dan bahaya membagikan informasi pribadi di ruang digital. Materi disampaikan melalui contoh sehari-hari yang dekat dengan kehidupan mereka, sehingga mudah dipahami dan diingat.
Ketiga, pengenalan terhadap kreativitas dan karier di dunia digital. Anak-anak diperlihatkan bahwa teknologi membuka banyak peluang profesi di masa depan, mulai dari pengembang aplikasi, desainer digital, hingga analis data. Dengan cara ini, program tidak hanya bersifat preventif, tetapi juga inspiratif—menumbuhkan mimpi dan minat sejak usia dini.
Pendekatan holistik tersebut mendapat dukungan dari Pertamina Patra Niaga sebagai bagian dari pelaksanaan Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL). Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Jatimbalinus, Ahad Rahedi, menekankan bahwa program ini merupakan wujud nyata budaya keberlanjutan yang diusung perusahaan.
“Kami tidak hanya hadir memberikan edukasi, tetapi juga membangun hubungan yang berkelanjutan dengan dunia pendidikan dan masyarakat,” ujarnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa ICT Goes to School bukan sekadar kegiatan seremonial satu hari, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem literasi digital yang berkelanjutan. Dunia pendidikan, khususnya di tingkat dasar, membutuhkan dukungan berbagai pihak untuk menghadapi tantangan era digital yang semakin kompleks.
Dari sisi peserta, respons siswa menunjukkan bahwa pendekatan yang digunakan tepat sasaran. Salah satu siswa SDN Kandangan III, Ketua Kelas 6A Zulfatan Ibrahim Aufaraman, mengungkapkan kegembiraannya mengikuti kegiatan tersebut.
“Saya senang sekali bisa belajar tentang teknologi dan bagaimana cara menggunakannya dengan aman. Materinya sangat mudah dipahami, dan saya juga bisa bermain sambil belajar,” kata Zulfa.
Ungkapan sederhana itu mencerminkan esensi utama program ini: belajar tanpa tekanan. Ketika anak-anak merasa senang dan nyaman, pesan edukasi akan lebih mudah diterima dan melekat. Bermain sambil belajar menjadi metode efektif untuk menanamkan nilai-nilai penting, termasuk etika dan keamanan digital.
Pihak sekolah pun menyambut positif inisiatif Pertamina. Kepala Sekolah SDN Kandangan II, Hima Kurniawan Arip Piyanto, menilai kegiatan ini memberikan manfaat besar bagi siswa.
“Kami berharap dapat terus bekerja sama untuk menciptakan generasi yang lebih cakap digital,” katanya.
Harapan tersebut sejalan dengan kebutuhan pendidikan dasar saat ini. Sekolah tidak bisa berjalan sendiri dalam menghadapi tantangan digitalisasi. Kolaborasi dengan dunia industri, khususnya perusahaan yang memiliki kompetensi di bidang teknologi, menjadi langkah strategis untuk memperkaya wawasan siswa dan tenaga pendidik.
Lebih dari sekadar transfer pengetahuan, ICT Goes to School juga menjadi ruang dialog antara generasi. Para Perwira Pertamina tidak hanya mengajar, tetapi juga mendengarkan. Mereka menyerap cara pandang anak-anak terhadap teknologi, kebiasaan digital yang sudah terbentuk, serta tantangan yang dihadapi di lingkungan rumah dan sekolah. Interaksi dua arah ini penting untuk merancang program literasi digital yang lebih relevan di masa depan.
Dalam konteks yang lebih luas, program ini menunjukkan peran strategis BUMN dalam mendukung agenda nasional pembangunan sumber daya manusia. Literasi digital merupakan salah satu fondasi penting dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. Dengan memperkenalkan teknologi secara aman dan bijak sejak sekolah dasar, risiko penyalahgunaan teknologi di kemudian hari dapat ditekan, sementara potensi positifnya dapat dimaksimalkan.
Kegiatan di SDN II dan SDN III Kandangan juga menjadi contoh bagaimana edukasi digital dapat dilakukan tanpa harus bergantung pada perangkat canggih. Yang terpenting adalah pendekatan, materi, dan keteladanan. Anak-anak belajar bahwa teknologi adalah alat yang harus dikendalikan, bukan sebaliknya. Mereka diajak menjadi pengguna yang kritis, bertanggung jawab, dan kreatif.
Ke depan, tantangan digital tentu akan semakin kompleks. Isu keamanan siber, disinformasi, dan kecanduan gawai akan terus berkembang. Oleh karena itu, inisiatif seperti ICT Goes to School menjadi semakin relevan. Program ini tidak hanya menjawab kebutuhan hari ini, tetapi juga menyiapkan generasi muda untuk menghadapi masa depan dengan bekal pengetahuan dan sikap yang tepat.
Melalui kolaborasi antara Pertamina, sekolah, dan masyarakat, pendidikan literasi digital dapat tumbuh sebagai gerakan bersama. Dari ruang kelas sederhana di Kandangan, Surabaya, pesan penting itu disampaikan: masa depan digital Indonesia dimulai dari anak-anak yang cakap, bijak, dan berkarakter.