Wednesday, 11 Feb 2026

Perempuan dan Masa Depan Digital Indonesia: Menutup Kebocoran Talenta Teknologi

6 minutes reading
Sunday, 8 Feb 2026 11:11 1 admin

genbisnis.com/ – Perkembangan teknologi digital bergerak dengan kecepatan yang sulit dibendung. Dari layanan publik, sistem pendidikan, hingga industri kreatif dan manufaktur, hampir seluruh sektor kehidupan kini bergantung pada ekosistem digital. Di balik transformasi besar ini, kebutuhan akan sumber daya manusia yang mumpuni menjadi faktor kunci keberlanjutan pertumbuhan ekonomi digital Indonesia. Namun, di tengah ambisi besar tersebut, masih ada satu persoalan mendasar yang belum sepenuhnya teratasi: keterlibatan perempuan dalam bidang sains dan teknologi.

Isu ini kembali mengemuka ketika Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan pentingnya peningkatan partisipasi perempuan di sektor teknologi. Dalam berbagai kesempatan, ia menyoroti bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia tidak hanya bergantung pada kecanggihan infrastruktur, tetapi juga pada inklusivitas talenta yang mengisinya.

“Indonesia diproyeksikan membutuhkan 12 juta talenta digital pada 2030. Tantangannya bukan hanya soal jumlah, tetapi soal akses yang setara bagi anak perempuan untuk terlibat dan tumbuh di dalamnya,” katanya sebagaimana dikutip dalam keterangan pers kementerian pada Minggu.

Pernyataan tersebut menggambarkan dua lapis tantangan yang dihadapi Indonesia. Di satu sisi, ada kebutuhan besar akan tenaga kerja digital untuk menggerakkan ekonomi berbasis teknologi. Di sisi lain, terdapat kesenjangan akses yang membuat sebagian kelompok—khususnya perempuan—belum sepenuhnya dapat mengambil peran optimal dalam ekosistem tersebut.

Fenomena Leaky Pipeline dalam Dunia Teknologi

Masalah partisipasi perempuan di bidang teknologi bukanlah isu baru, tetapi semakin terasa relevansinya seiring meningkatnya kebutuhan talenta digital. Meutya Hafid secara khusus menyoroti fenomena leaky pipeline, istilah yang menggambarkan menyusutnya jumlah perempuan di setiap tahapan karier teknologi, mulai dari pendidikan, pelatihan, hingga dunia kerja profesional.

Meutya menyoroti adanya fenomena leaky pipeline atau berkurangnya jumlah perempuan yang berkarier dalam bidang teknologi saat menghadiri acara AWS Girls’ Tech Day di Bekasi, Sabtu (7/2).

Fenomena ini terlihat jelas dalam data yang ia sampaikan. Partisipasi perempuan dalam pelatihan digital sebenarnya tergolong cukup baik. Namun, angka tersebut tidak berbanding lurus dengan keterlibatan mereka di dunia kerja teknologi.

Ia mengutip data yang menunjukkan bahwa partisipasi perempuan dalam pelatihan digital mencapai 36 persen. Namun, hanya sekitar 17 persen yang benar-benar melanjutkan karier profesional di bidang teknologi.

Artinya, hampir separuh dari perempuan yang telah memiliki bekal awal di bidang digital tidak melanjutkan langkahnya ke ranah profesional. Kebocoran ini menunjukkan bahwa masalahnya bukan semata-mata minat atau kemampuan, melainkan faktor struktural yang menghambat transisi dari pembelajaran ke dunia kerja.

Tantangan di Peran Teknologi Mendalam

Kesenjangan partisipasi perempuan menjadi semakin nyata ketika berbicara tentang peran teknis mendalam, seperti kecerdasan artifisial (AI), rekayasa perangkat lunak, dan engineering. Bidang-bidang ini merupakan tulang punggung inovasi digital, sekaligus sektor dengan kebutuhan talenta paling tinggi dalam beberapa dekade ke depan.

“Di Indonesia, peran teknis mendalam seperti AI dan engineering baru melibatkan sekitar 15 hingga 18 persen perempuan. Kita harus memastikan akses digital berkembang menjadi keterampilan dan peluang kerja nyata,” kata Meutya.

Angka tersebut mencerminkan realitas bahwa perempuan masih sangat minim terwakili di posisi strategis teknologi. Padahal, peran-peran inilah yang menentukan arah pengembangan produk digital, algoritma, dan sistem yang akan digunakan masyarakat luas. Minimnya perspektif perempuan dalam proses ini berpotensi menciptakan teknologi yang kurang inklusif dan tidak sepenuhnya merepresentasikan kebutuhan beragam kelompok pengguna.

Akar Masalah: Stereotip hingga Minim Panutan

Menurut Meutya, rendahnya partisipasi perempuan di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) tidak terjadi secara kebetulan. Ada sejumlah faktor yang saling berkaitan dan membentuk hambatan sejak dini.

Ia mengemukakan bahwa masih ada beberapa faktor yang menghambat perempuan untuk menekuni sains, teknologi, rekayasa, dan matematika (Science, Technology, Engineering, and Mathematics/STEM), termasuk di antaranya stereotip gender, kurangnya rasa aman, dan kurangnya panutan.

Stereotip gender masih kuat melekat dalam budaya masyarakat. Bidang teknologi kerap dianggap sebagai ranah maskulin yang membutuhkan logika kaku dan kemampuan teknis tinggi, sementara perempuan sering diarahkan ke bidang yang dianggap lebih “lembut”. Pola pikir ini tidak hanya memengaruhi pilihan pendidikan, tetapi juga kepercayaan diri perempuan untuk bertahan di bidang teknologi.

Selain itu, isu rasa aman—baik di ruang belajar maupun ruang kerja—juga menjadi faktor penting. Lingkungan yang kurang ramah, minim dukungan, atau bahkan diskriminatif dapat membuat perempuan merasa terpinggirkan. Ditambah lagi, kurangnya figur panutan perempuan di bidang teknologi membuat banyak anak perempuan kesulitan membayangkan masa depan mereka di sektor ini.

Peran Negara dalam Membangun Ekosistem Inklusif

Menyadari kompleksitas masalah tersebut, pemerintah mengambil peran aktif untuk mendorong peningkatan partisipasi perempuan di bidang sains dan teknologi. Upaya ini tidak hanya dilakukan melalui kebijakan, tetapi juga melalui berbagai program yang menyentuh akar persoalan.

Pemerintah berupaya meningkatkan partisipasi perempuan dalam bidang sains dan teknologi dengan membuka akses ke pengetahuan, mendukung pengembangan talenta, serta menciptakan ruang digital yang aman dan inklusif.

Pendekatan ini menegaskan bahwa inklusi digital bukan sekadar menyediakan akses internet atau perangkat, melainkan memastikan bahwa setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berkembang, dan berkarier. Ruang digital yang aman dan inklusif menjadi fondasi penting agar perempuan merasa nyaman bereksplorasi dan berinovasi tanpa rasa takut atau tekanan sosial.

Selain itu, pemerintah juga tidak bekerja sendiri. Sinergi dengan sektor swasta dan industri teknologi menjadi strategi utama untuk menjembatani dunia pendidikan dan dunia kerja.

Pemerintah juga bersinergi dengan pelaku industri untuk mendukung peningkatan kapasitas talenta-talenta digital perempuan.

Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang berkelanjutan, di mana pelatihan, mentoring, dan peluang kerja saling terhubung secara nyata.

AWS Girls’ Tech Day: Menanam Benih Sejak Dini

Salah satu contoh konkret kolaborasi tersebut adalah Program AWS Girls’ Tech Day. Program ini menjadi ruang perkenalan teknologi bagi generasi muda perempuan, jauh sebelum mereka memasuki dunia kerja.

Menkomdigi mengapresiasi pelaksanaan Program AWS Girls’ Tech Day, yang memfasilitasi 400 siswi sekolah dasar sampai sekolah menengah atas untuk mempelajari kecerdasan artifisial, koding, dan robotika.

Program ini tidak hanya memberikan pengetahuan teknis dasar, tetapi juga pengalaman langsung yang membangun rasa percaya diri. Dengan mengenalkan teknologi sejak dini, anak perempuan dapat melihat bahwa bidang ini bukan sesuatu yang asing atau menakutkan, melainkan ruang kreatif yang terbuka untuk siapa saja.

Dalam kesempatan tersebut, Meutya memberikan pesan yang sederhana namun sarat makna kepada para peserta.

“Jangan takut mencoba teknologi dan jangan takut salah. Masa depan digital Indonesia membutuhkan kreativitas, empati, dan keberanian kalian,” katanya kepada peserta program.

Pesan ini menegaskan bahwa teknologi bukan hanya soal kecerdasan logis, tetapi juga tentang nilai-nilai manusiawi. Kreativitas, empati, dan keberanian justru menjadi kualitas penting dalam menciptakan teknologi yang berdampak positif bagi masyarakat.

LAINNYA