MENU Wednesday, 11 Feb 2026

Tantangan Komunikasi Mahasiswa di Era Informasi

4 minutes reading
Tuesday, 13 Jan 2026 07:16 2 admin

genbisnis.com/ | Komunikasi adalah denyut nadi kehidupan manusia. Sejak zaman lisan, tulisan, hingga era digital, komunikasi selalu menjadi cara manusia menegaskan eksistensinya. Bagi mahasiswa, komunikasi bukan hanya sarana menyampaikan gagasan, tetapi juga cara membangun identitas, memperluas jejaring, dan menunjukkan keberadaan di tengah masyarakat. Di era informasi yang serba cepat, eksistensi mahasiswa semakin ditentukan oleh kemampuan mereka berkomunikasi di ruang digital.

Fakta terbaru menunjukkan bahwa mahasiswa Indonesia kini berada di persimpangan besar. Pedoman Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) 2024 menekankan pentingnya komunikasi digital sebagai sarana inovasi dan eksistensi akademik. Sementara itu, penelitian Jurnal Dharmawangsa (2025) menegaskan bahwa kecakapan digital mahasiswa berhubungan langsung dengan kemampuan mereka membangun identitas akademik dan sosial. Artinya, komunikasi bukan lagi sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi eksistensi mahasiswa di era informasi.

Komunikasi sebagai Bentuk Eksistensi

Komunikasi digital memberi mahasiswa panggung untuk menampilkan diri. Identitas mereka kini tidak hanya dibentuk oleh interaksi tatap muka, tetapi juga oleh jejak digital: postingan, opini, karya akademik, hingga konten kreatif. Mahasiswa yang aktif berkomunikasi di ruang digital lebih mudah membangun jejaring sosial, memperkuat reputasi akademik, dan membuka peluang karier.

Namun, eksistensi digital juga menuntut tanggung jawab. Sinambela (2024) menunjukkan bahwa mahasiswa sering tidak sadar terjebak dalam filter bubble dan echo chamber, di mana algoritma menyaring informasi sesuai preferensi mereka. Akibatnya, eksistensi yang dibangun bisa sempit, homogen, dan kehilangan keberagaman perspektif.

Tantangan di Era Informasi

Era informasi menghadirkan tantangan yang kompleks bagi mahasiswa:

  • Arus Informasi Berlebihan: Informasi melimpah membuat mahasiswa kesulitan membedakan fakta dan opini.
  • Bias Algoritma: Filter bubble membatasi wawasan mahasiswa, sehingga komunikasi mereka sering hanya berputar dalam lingkaran yang sama.
  • Privasi dan Etika Digital: Setiap komunikasi meninggalkan jejak data. Jurnal Didaktika (2025) menyoroti ketergantungan mahasiswa pada AI dalam tugas akademik, yang berisiko menurunkan kemampuan berpikir kritis dan menimbulkan masalah integritas.
  • Ketergantungan Teknologi: Kemudahan komunikasi digital membuat mahasiswa rentan bergantung pada algoritma, sehingga eksistensi mereka bisa kehilangan makna kritis.

Peran Mahasiswa

Mahasiswa dituntut untuk tidak hanya menjadi pengguna pasif, tetapi juga aktor kritis dan kreatif dalam komunikasi digital.

  • Sebagai Pengguna Kritis: Mahasiswa harus mampu menimbang informasi, membandingkan sumber, dan tidak mudah terjebak dalam bias algoritma.
  • Sebagai Inovator: JUPE UNS (2025) menunjukkan bahwa pemanfaatan AI dalam komunikasi akademik dapat meningkatkan motivasi belajar mahasiswa. Ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk menciptakan solusi berbasis komunikasi digital yang inovatif.
  • Sebagai Agen Literasi Digital: Mahasiswa berperan penting dalam mengedukasi masyarakat tentang etika komunikasi, privasi digital, dan literasi informasi.
  • Sebagai Pionir Sosial: JEDBUS (2025) menekankan bahwa mahasiswa yang mampu mengintegrasikan komunikasi digital dengan kecerdasan buatan akan lebih siap menghadapi tantangan era informasi.

Dimensi Filosofis dan Sosial

Secara filosofis, komunikasi adalah cara manusia menegaskan keberadaannya. Seperti dikatakan Martin Buber, eksistensi manusia ditentukan oleh relasi dengan orang lain. Dalam konteks mahasiswa, relasi itu kini banyak terjadi di ruang digital. Eksistensi mereka tidak lagi hanya ditentukan oleh kehadiran fisik, tetapi juga oleh jejak komunikasi yang mereka tinggalkan di dunia maya.

Secara sosial, komunikasi digital membentuk cara mahasiswa berinteraksi dengan masyarakat. Mereka bukan hanya konsumen informasi, tetapi juga produsen konten. Mahasiswa yang aktif menulis opini, membuat konten edukatif, atau menginisiasi diskusi daring berkontribusi pada pembentukan opini publik. Namun, tanggung jawab sosial muncul: komunikasi yang salah arah bisa memicu misinformasi atau polarisasi.

Kesimpulan

Komunikasi di era informasi adalah bentuk eksistensi mahasiswa. Tantangan seperti arus informasi berlebihan, privasi digital, dan keterjebakan algoritma harus dihadapi dengan sikap kritis dan etis. Fakta terbaru dari penelitian 2024–2025 menunjukkan bahwa mahasiswa yang memiliki literasi digital kuat, mampu memanfaatkan AI secara bijak, dan sadar akan etika komunikasi akan lebih siap menghadapi era informasi.

Dengan komunikasi yang bijak, mahasiswa tidak hanya eksis di ruang digital, tetapi juga berperan sebagai agen perubahan yang membawa masyarakat menuju literasi informasi yang lebih sehat. Eksistensi mereka bukan sekadar hadir, melainkan memberi makna bagi perkembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan sosial di era informasi.

Sumber

  • Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Pedoman Lomba Inovasi Digital Mahasiswa (LIDM) Perguruan Tinggi 2024. Jakarta: Pusat Prestasi Nasional, 2024.
  • Sinambela, Lasria. “Membongkar Algoritma: Studi Kualitatif Tentang Kesadaran Pengguna Terhadap Filter Bubble dan Echo Chamber.” Jurnal Ilmu Komunikasi, Universitas MPU Tantular, 2024.
  • Jurnal Dharmawangsa. “Kecakapan Digital di Kalangan Mahasiswa: Tinjauan Aspek Literasi Digital.” Vol. 19 No. 1, Januari 2025.
  • Jurnal Pendidikan Ekonomi (JUPE), Universitas Sebelas Maret. “Pengaruh Pemanfaatan Artificial Intelligence terhadap Motivasi Belajar Mahasiswa.” Vol. 13 No. 2, 2025.
  • JEDBUS (Journal of Economic and Digital Business). “Pengaruh Kecerdasan Buatan terhadap Mahasiswa di Perguruan Tinggi.” Vol. 2 No. 1, 2025.
  • Jurnal Didaktika, UIN Syarif Hidayatullah. “Ketergantungan Penggunaan AI pada Tugas Akademik Mahasiswa.” Vol. 25 No. 2, 2025.

 

LAINNYA