genbisnis.com/ – Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menegaskan bahwa pelestarian lingkungan hidup merupakan tanggung jawab keagamaan yang tidak dapat dipisahkan dari integritas keimanan seorang muslim.
Penegasan tersebut disampaikan Menag dalam Seminar Internasional Fikih Lingkungan (Ekoteologi) yang berlangsung di Al-Azhar Conference Center, Kairo, Mesir.
Ia mengatakan acara ini bertujuan untuk memperkuat kontribusi pemikiran Islam dalam menjawab tantangan krisis iklim global melalui pendekatan teologis, yuridis, dan etis.
Menag menekankan manusia memiliki kewajiban moral untuk menjaga keseimbangan alam semesta sebagai titipan Sang Pencipta.
“Dalam perspektif Islam, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi yang harus dijaga keseimbangannya. Karena itu, setiap aktivitas yang merusak lingkungan sejatinya telah menyimpang dari tujuan ibadah dan hakikat pembangunan peradaban,” kata Nasaruddin Umar dalam keterangan tertulis yang diterima pada Kamis (22/1/2026).
Ia menjelaskan bahwa konsep ekoteologi harus menjadi fondasi kesadaran kolektif. Menurutnya, dunia saat ini menghadapi tantangan besar yang tidak hanya bisa diselesaikan dengan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan sentuhan nurani.
“Dunia hari ini tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga nurani dan etika dalam mengelola kemajuan,” tambahnya.
Seminar bertajuk “Tantangan Berinteraksi dengan Lingkungan dalam Tafsir dan Sunnah” ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Kementerian Agama RI, Al-Azhar Al-Sharif, KBRI Kairo, dan PPMI Mesir.
Rektor Universitas Al-Azhar, Salama Gomaa Dawud, turut mendukung pernyataan Menag dengan menegaskan bahwa dampak kerusakan lingkungan akan dirasakan oleh seluruh umat manusia tanpa terkecuali, sehingga pelestariannya menjadi kewajiban individu.
Sebagai bentuk penguatan hubungan intelektual, Menag juga menyerahkan secara simbolis mushaf Al-Qur’an braille produksi Kemenag RI kepada Rektor Al-Azhar. Kuasa Usaha Ad Interim (KUAI) KBRI Kairo, Zaim Al Khalis Nasution, menilai momentum ini mempertegas komitmen Indonesia dan Mesir dalam mendorong diplomasi keagamaan yang moderat serta berkelanjutan.
Sesi ilmiah seminar ini juga menghadirkan pakar seperti Hasan El Sagher dan Mukhlis Hanafi yang membedah mendalam mengenai etika lingkungan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kehadiran tokoh seperti Ketua MUI Amany Lubis dan Ketua OIAA Abbas Shouman semakin memperkuat urgensi peran institusi keagamaan sebagai garda terdepan dalam edukasi ekologis global. (*)
No Comments