Kenapa Gen Z Cepat Resign? Ini yang Sebenarnya Terjadi

3 minutes reading
Thursday, 30 Apr 2026 10:17 0 View Redaksi

Akhir akhir ini, Gen Z sering banget gampang resign. Baru kerja bentar, udah keluar. Belum setahun udah pindah lagi. Dari luar, kelihatannya kayak kurang komitmen atau nggak tahan tekanan. Tapi, kalau dipikir pikir, apa iya sesimpel itu? Kalau dilihat dari sudut pandang yang berbeda, Gen Z itu tumbuh di era digital, di mana informasi itu gampang banget untuk di akses. Mau tahu gaji standar, informasi perusahaan, sampai budaya di dalam dunia pekerjaan? tinggal cari aja di internet. Jadi, ketika mereka ngerasa kerjaannya nggak sesuai ekspektasi atau toxic, mereka jadi tahu kayak “gue punya pilihan lain“. Dan itu yang bikin mereka berani ambil keputusan buat resign.

Selain itu, cara Gen Z memandang kerja juga beda. Buat mereka, kerja bukan cuma soal gaji. Tapi, mereka juga mikirin kesehatan mental, waktu istirahat, dan kehidupan di luar kerjaan. Kalau kerjaan mulai bikin hidup terasa berat terus, ya wajar kalau mereka mikir, “ini worth it ga yaa buat dipertahanin?“. Banyak Gen Z ngerasa kalau kerjaan mereka itu ada dampaknya atau minimal bikin mereka berkembang. Kalau tiap hari cuma ngerjain hal yang sama tanpa arah yang jelas, rasa jenuh bisa datang lebih cepat. Dan di titik itu, resign sering jadi pilihan.

Nggak semua rasa nggak nyaman berarti kita harus langsung pergi. Dunia kerja, emang nggak selalu enak. Ada proses adaptasi, capek, dan ada momen di mana kita ngerasa stuck. Justru disitu  biasanya kita belajar banyak. Kalau terlalu cepat keluar tanpa benar-benar memahami situasinya, bisa jadi kita cuma “lari” dari masalah yang sebenarnya perlu dihadapi. Jadi mungkin, ini bukan soal Gen Z yang terlalu cepat resign. Tapi lebih ke perubahan cara pandang soal kerja itu sendiri.

Gen Z cenderung lebih sadar diri, lebih berani memilih, dan nggak mau terjebak di situasi yang mereka anggap merugikan. Tapi di saat yang sama, tetap penting buat belajar bertahan, beradaptasi, dan nggak langsung ambil keputusan saat emosi lagi tinggi. Karena pada akhirnya, resign itu bukan salah atau benar. yang penting adalah kita tahu kenapa kita pergi, dan ke mana kita mau melangkah setelahnya.

Penutup: Gen Z yang dianggap “cepat resign“ sebenarnya bukan sekadar soal ketidaksabaran, tapi tentang cara dalam melihat dunia kerja. Mereka lebih sadar akan nilai diri, lebih berani mengambil keputusan, dan tidak ragu mencari lingkungan yang lebih sehat dan sesuai. Meski begitu, penting juga untuk tetap punya keseimbangan. Nggak semua masalah harus dihindari, dan nggak semua ketidaknyamanan berarti kita berada di tempat yang salah. Kadang, justru dari proses bertahan dan beradaptasi itulah kita tumbuh. Pada akhirnya, resign bukan tentang cepat atau lambat, tapi tentang kesiapan.

 

Penulis: Febri Hadi Tristiono (Mahasiswa Universitas Pamulang)

 

 

 

LAINNYA