Wednesday, 11 Feb 2026

Kelelahan Digital: Ketika Konektivitas Tanpa Batas Menjadi Beban Psikologis

6 minutes reading
Saturday, 7 Feb 2026 12:48 1 admin

genbisnis.com/ – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan besar dalam kehidupan manusia modern. Cara bekerja, belajar, dan berinteraksi mengalami pergeseran yang signifikan seiring hadirnya internet berkecepatan tinggi, aplikasi pesan instan, rapat daring, serta media sosial yang selalu aktif selama 24 jam. Komunikasi yang dahulu dibatasi ruang dan waktu kini berlangsung secara real time, lintas kota, bahkan lintas negara. Dalam banyak aspek, teknologi digital menghadirkan kemudahan, efisiensi, dan peluang baru.

Namun, di balik segala kemajuan tersebut, muncul fenomena yang semakin banyak dirasakan tetapi kerap luput dari perhatian serius, yakni kelelahan digital atau digital fatigue. Kondisi ini merujuk pada kelelahan psikologis dan kognitif akibat paparan komunikasi digital yang intens, terus-menerus, dan minim jeda. Ia tidak selalu hadir dalam bentuk gangguan kesehatan yang jelas, melainkan sering muncul secara halus: rasa lelah yang menetap, menurunnya kemampuan fokus, kejenuhan emosional, hingga dorongan untuk menarik diri dari interaksi digital.

Fenomena kelelahan digital menjadi sangat relevan dalam konteks Indonesia. Dengan tingkat penetrasi internet yang telah melampaui tiga perempat populasi, masyarakat Indonesia termasuk salah satu pengguna internet paling aktif di dunia. Rata-rata waktu penggunaan internet harian yang mencapai lebih dari tujuh jam menunjukkan betapa ruang digital telah menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian. Waktu tersebut tidak hanya digunakan untuk hiburan, tetapi juga untuk komunikasi kerja, pembelajaran daring, dan interaksi sosial. Intensitas inilah yang membentuk lingkungan komunikasi baru: selalu terhubung, selalu tersedia, dan jarang benar-benar berhenti.

Kerja Hibrida dan Beban Komunikasi Tak Terlihat

Perubahan pola kerja pascapandemi menjadi salah satu faktor utama yang memperkuat pengalaman kelelahan digital. Kerja hibrida—perpaduan antara bekerja dari rumah dan dari kantor—kini menjadi praktik umum di berbagai sektor, terutama jasa, pendidikan, dan teknologi informasi. Model ini kerap dipandang sebagai simbol fleksibilitas dan efisiensi kerja modern.

Namun, fleksibilitas tersebut sering kali dibayar dengan kaburnya batas antara ruang kerja dan ruang personal. Tanpa kehadiran fisik kantor yang jelas, komunikasi kerja cenderung meluas ke luar jam kerja formal. Pesan pekerjaan dapat masuk melalui berbagai kanal—aplikasi pesan instan, surel, platform kolaborasi—tanpa kejelasan urgensi maupun batas waktu respons.

Survei organisasi menunjukkan bahwa pekerja digital dapat menerima puluhan hingga ratusan pesan kerja setiap hari. Setiap notifikasi menuntut perhatian, penilaian, dan keputusan: perlu dibalas sekarang atau nanti, penting atau bisa ditunda. Akumulasi tuntutan kecil inilah yang memicu fragmentasi perhatian dan kelelahan kognitif. Fokus menjadi terpecah, energi mental terkuras, meskipun secara fisik seseorang tampak “hanya duduk di depan layar”.

Kerja hibrida juga memicu peningkatan intensitas rapat daring. Rapat virtual yang awalnya dirancang sebagai pengganti pertemuan fisik justru sering bertambah jumlahnya. Banyak pekerja menjalani rapat daring secara berurutan, nyaris tanpa jeda. Kamera menyala, konsentrasi dijaga, ekspresi wajah dikontrol—semua ini menuntut energi psikologis yang tidak sedikit. Fenomena ini dikenal luas sebagai zoom fatigue, salah satu bentuk spesifik dari kelelahan digital.

Dalam konteks budaya kerja Indonesia, tekanan ini diperkuat oleh norma sosial yang menilai kecepatan respons sebagai indikator komitmen dan profesionalisme. Keterlambatan membalas pesan sering kali dipersepsikan sebagai sikap tidak responsif. Akibatnya, banyak pekerja merasa harus selalu siaga, bahkan di luar jam kerja. Tanpa kebijakan komunikasi yang jelas, kerja hibrida berisiko berubah dari solusi fleksibel menjadi sumber kelelahan psikologis yang tersembunyi.

Kelelahan Digital dalam Dunia Pendidikan

Kelelahan digital tidak hanya dialami pekerja, tetapi juga merambah sektor pendidikan. Digitalisasi pembelajaran membuka akses yang lebih luas dan inklusif, namun sekaligus memperkenalkan beban komunikasi akademik yang baru. Platform pembelajaran daring, kelas sinkron berbasis video, grup pesan kelas, forum diskusi, serta tugas digital sering berjalan bersamaan.

Bagi peserta didik, situasi ini menuntut kemampuan fokus dan pengelolaan perhatian yang tinggi. Banyak siswa dan mahasiswa melaporkan kesulitan berkonsentrasi, cepat jenuh, serta kelelahan mental selama pembelajaran daring yang intens. Interaksi belajar yang berlangsung melalui layar dalam durasi panjang mengurangi kualitas keterlibatan emosional dan sosial yang biasanya hadir dalam pembelajaran tatap muka.

Pendidik pun tidak luput dari tekanan serupa. Mereka dituntut selalu hadir secara digital: menjawab pesan siswa, memantau aktivitas daring, menyiapkan materi interaktif, dan menjaga dinamika kelas tetap hidup. Dalam jangka panjang, tuntutan ini berpotensi menurunkan kesejahteraan psikologis tenaga pendidik, terutama ketika ekspektasi ketersediaan tidak diimbangi dengan dukungan sistem yang memadai.

Masalah utama dalam konteks ini bukan terletak pada teknologi pembelajaran itu sendiri, melainkan pada desain komunikasi pendidikan. Ketika pembelajaran daring hanya memindahkan intensitas tatap muka ke ruang digital tanpa penyesuaian ritme, durasi, dan beban kognitif, kelelahan menjadi konsekuensi yang sulit dihindari.

Media Sosial dan Kelelahan Kolektif

Di luar dunia kerja dan pendidikan, budaya media sosial juga memainkan peran penting dalam membentuk pengalaman kelelahan digital. Indonesia termasuk salah satu negara dengan jumlah pengguna media sosial terbesar di dunia. Media sosial menjadi ruang utama untuk berekspresi, berbagi informasi, membangun jejaring, dan menjaga relasi sosial.

Namun, intensitas penggunaan yang tinggi membawa konsekuensi psikologis. Arus informasi yang cepat, notifikasi berkelanjutan, serta tekanan untuk terus terlibat secara emosional menciptakan beban tersendiri. Dalam budaya yang menjunjung kebersamaan dan responsivitas, keterlambatan merespons pesan atau unggahan sering dipersepsikan negatif.

Banyak pengguna media sosial melaporkan rasa jenuh, kelelahan emosional, dan dorongan untuk mengurangi interaksi daring. Menariknya, kelelahan ini jarang diungkapkan secara terbuka. Ia lebih sering muncul dalam bentuk diam, apatis, atau keinginan “rehat sejenak” dari media sosial, tanpa benar-benar meninggalkannya. Fenomena ini menunjukkan bahwa kelelahan digital bersifat kolektif, dipengaruhi oleh norma sosial dan desain platform yang mendorong keterlibatan tanpa henti.

Memahami Akar Masalah Kelelahan Digital

Berbagai temuan data memperkuat gambaran kelelahan digital di masyarakat. Durasi penggunaan internet yang tinggi menunjukkan intensitas paparan komunikasi digital. Peningkatan jumlah dan durasi rapat daring menandai perubahan pola komunikasi kerja. Beban pesan kerja yang tinggi berkontribusi pada fragmentasi perhatian. Survei pengguna media sosial menunjukkan hubungan antara penggunaan intensif dengan kejenuhan emosional. Sementara itu, kaburnya batas antara ruang kerja dan ruang personal memperkuat risiko kelelahan dalam kerja hibrida.

Penting untuk dipahami bahwa kelelahan digital bukan semata-mata kegagalan individu dalam mengelola waktu atau teknologi. Fenomena ini mencerminkan masalah struktural dalam ekosistem komunikasi digital. Norma yang menuntut kecepatan, visibilitas, dan keterhubungan tanpa jeda sering kali mengabaikan keterbatasan kognitif dan emosional manusia.

Pendekatan yang hanya menekankan pengendalian diri individu berisiko mengalihkan tanggung jawab dari sistem ke personal. Padahal, tanpa perubahan pada desain komunikasi organisasi, pendidikan, dan platform digital, kelelahan akan terus berulang.

Menata Ulang Ekologi Komunikasi Digital

Menghadapi kelelahan digital, diperlukan penataan ulang cara berkomunikasi di ruang digital. Dalam dunia kerja hibrida, hal ini mencakup kebijakan komunikasi yang jelas, penghargaan terhadap kerja asinkron, serta pengakuan atas hak untuk tidak selalu terhubung. Di sektor pendidikan, desain pembelajaran perlu mempertimbangkan beban kognitif dan emosional peserta didik, bukan hanya target kurikulum.

Dalam konteks media sosial, pembangunan budaya digital yang lebih reflektif dan berempati menjadi penting. Kualitas relasi perlu lebih dihargai dibandingkan intensitas keterlibatan. Teknologi seharusnya menjadi alat yang mendukung kesejahteraan, bukan sumber kelelahan yang dinormalisasi.

Kelelahan digital merupakan sinyal bahwa konektivitas tanpa batas bukanlah kemajuan yang berkelanjutan. Ketika teknologi tidak lagi membuat manusia merasa terhubung secara bermakna, saat itulah diperlukan peninjauan ulang terhadap ekologi komunikasi digital. Pada akhirnya, teknologi harus kembali pada tujuan dasarnya: mendukung kehidupan manusia yang sehat, seimbang, dan bermakna.

*) Dr (Can) Ressa Uli Patrissia, SS, MIkom, AMIPR
Pemerhati komunikasi dan teknologi, Dosen Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

LAINNYA