dok ototekno
Genbisnis.com | Peneliti dari Vienna University of Technology (TU Wien), Wina, Austria, membuat terobosan unik di dunia teknologi. Bekerja sama dengan startup penyimpanan data asal Austria–Jerman, Cerabyte, mereka berhasil menciptakan kode QR terkecil di dunia.
Kode Quick Response tersebut hanya berukuran 1,98 mikrometer persegi, lebih kecil dibandingkan sebagian besar bakteri. Pencapaian ini resmi tercatat dalam Guinness World Records setelah melalui proses pembuatan dan pembacaan yang diuji serta diverifikasi secara independen.
Karena ukurannya yang sangat kecil, kode QR ini tidak dapat dilihat dengan mata telanjang maupun menggunakan mikroskop optik standar. Para peneliti hanya mampu mengamati dan membacanya dengan bantuan mikroskop elektron beresolusi tinggi.
“Struktur yang telah kami buat di sini sangat halus sehingga sama sekali tidak dapat dilihat dengan mikroskop optik,” kata Prof. Paul Mayrhofer dari Institut Ilmu dan Teknologi Material di TU Wien, dikutip Bisnis dari laman universitas, Kamis (19/2/2026).
Kode QR mikro ini tersusun atas struktur modul berukuran 29 × 29. Setiap pikselnya hanya memiliki lebar sekitar 49 nanometer, atau kira-kira sepersepuluh dari panjang gelombang cahaya tampak. Meski nyaris tak kasat mata, kode QR tersebut mampu menyimpan data hingga 2 terabyte.
Dalam proses pembuatannya, para peneliti memanfaatkan teknologi focused ion beam untuk mengukir pola kode QR pada lapisan tipis film keramik. Material keramik dipilih karena memiliki stabilitas tinggi, tahan terhadap kondisi ekstrem, serta tidak mudah mengalami perubahan struktur seiring waktu.
Pendekatan ini membuka peluang baru dalam penyimpanan informasi yang sangat padat sekaligus tahan lama.
“Dengan media penyimpanan keramik, kami mengejar pendekatan serupa dengan budaya kuno, yang prasastinya masih dapat kita baca hingga saat ini,” kata Alexander Kirnbauer, peneliti lain yang terlibat dalam pengembangan kode QR tersebut.
Lebih jauh, para peneliti melihat potensi teknologi ini tidak hanya sebatas pemecahan rekor dunia. Sistem penyimpanan berbasis keramik yang mampu menyimpan data dalam jangka waktu sangat panjang—tanpa memerlukan listrik atau pendinginan aktif—dinilai dapat mengubah cara penyimpanan arsip digital, dokumen pemerintahan, hingga catatan ilmiah.
Berbeda dengan pusat data modern yang membutuhkan konsumsi energi listrik sangat besar, pendekatan ini dinilai lebih ramah lingkungan dan berpotensi menekan kontribusi emisi karbon dioksida secara global. Kirnbauer menyatakan timnya akan terus mengembangkan teknologi kode QR mikro ini, termasuk mengeksplorasi penggunaan material lain agar memungkinkan produksi massal. Dengan demikian, teknologi ini diharapkan dapat diterapkan tidak hanya di laboratorium, tetapi juga pada skala industri.[]