MENU Wednesday, 11 Feb 2026

Strategi Perguruan Tinggi Islam untuk Mencapai Akreditasi Unggul

5 minutes reading
Saturday, 31 Jan 2026 21:47 3 admin

genbisnis.com/ | Perguruan tinggi Islam menghadapi tantangan yang semakin kompleks di era modern. Di satu sisi, institusi dituntut untuk mencapai standar akreditasi unggul sebagai bukti mutu kelembagaan. Di sisi lain, perguruantinggi Islam harus tetap menjaga nilai-nilai keislaman sebagai ruh pendidikan. Artikel ini membahas strategi pengembangan mutu perguruantinggi Islam dengan pendekatan manajemen pendidikan Islam yang terintegrasi dengan sistem penjaminan mutu nasional.

Melalui kajian literatur jurnal dan buku rujukan, artikel ini menunjukkan bahwa penguatan tata kelola, peningkatan kualitas SDM, pengembangan kurikulum integratif, penguatan budaya mutu, serta pemanfaatan teknologi informasimenjadi strategi utama dalam meningkatkan mutu. Seluruh upayatersebut harus dilandasi nilai-nilai Islam seperti amanah, ihsan, istiqamah, dan tanggung jawab sosial, agar akreditasi unggul tidak hanya menjadicapaian administratif, tetapi juga cerminan kualitas moral dan akademikinstitusi.

Mengapa Mutu Menjadi Isu Strategis Perguruan Tinggi Islam?

Perguruan tinggi Islam memiliki peran strategis dalam mencetak generasi muslim yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia. Namun, di tengah persaingan global pendidikan tinggi, mutumenjadi kata kunci yang menentukan keberlanjutan institusi. Akreditasiunggul kini menjadi indikator penting yang menunjukkan kualitas tata kelola, pembelajaran, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Bagi perguruan tinggi Islam, tantangan ini tidak sederhana. Upaya peningkatan mutu tidak boleh mengorbankan nilai-nilai keislaman yang menjadi identitas lembaga. Karena itu, strategi pengembangan mutuharus mampu menggabungkan profesionalitas manajemen modern dengan prinsip-prinsip Islam yang menjadi fondasi pendidikan.

Mutu dalam Pendidikan Islam: Lebih dari Sekadar Nilai Akreditasi

Dalam perspektif Islam, mutu tidak hanya diukur dari angka atau peringkat. Mutu adalah proses pembentukan manusia seutuhnya (insankamil). Pendidikan yang bermutu adalah pendidikan yang melahirkan manusia berilmu, beriman, dan berakhlak.

Konsep mutu dalam Islam sejalan dengan nilai ihsan, yaitu melakukansetiap pekerjaan dengan kualitas terbaik. Oleh karena itu, pengelolaanperguruan tinggi Islam harus dilandasi nilai-nilai berikut:

Amanah, sebagai tanggung jawab kepada Allah dan masyarakat
Istiqamah, sebagai konsistensi dalam menjaga kualitas
Ihsan, sebagai komitmen terhadap hasil terbaik
Adil, sebagai prinsip keadilan dalam pengelolaan
Maslahah, sebagai orientasi pada kemanfaatan umat

Nilai-nilai inilah yang menjadi fondasi dalam setiap strategi pengembangan mutu perguruan tinggi Islam.

Strategi Utama Pengembangan Mutu Perguruan Tinggi Islam

1. Memperkuat Kepemimpinan dan Tata Kelola Islami

Mutu perguruan tinggi sangat ditentukan oleh kepemimpinan. Pemimpinyang visioner, amanah, dan profesional akan mampu menggerakkanseluruh sistem menuju kualitas unggul. Kepemimpinan Islami menekankan keteladanan, musyawarah, serta kejujuran dalam pengambilan keputusan.

Penguatan tata kelola dapat dilakukan melalui:

Penerapan sistem penjaminan mutu internal secara konsisten
Transparansi dalam kebijakan akademik dan non-akademik
Pelibatan dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa dalam budaya mutu
Penyelarasan visi institusi dengan standar akreditasi nasional

Ketika tata kelola berjalan baik, iklim akademik akan tumbuh secara sehatdan berkelanjutan.

2. Meningkatkan Kualitas SDM sebagai Penggerak Mutu

Dosen dan tenaga kependidikan adalah ujung tombak mutu perguruantinggi. Karena itu, pengembangan SDM harus menjadi prioritas utama. Perguruan tinggi Islam perlu mendorong dosen untuk melanjutkan studi, meningkatkan publikasi ilmiah, dan mengembangkan metodepembelajaran inovatif.

Selain kompetensi akademik, pembinaan karakter Islami juga menjadikunci. Integrasi profesionalisme dan spiritualitas akan melahirkan SDM yang cerdas, berintegritas, dan berkomitmen pada kualitas.

3. Kurikulum Integratif: Menyatukan Ilmu dan Nilai

Kurikulum merupakan jantung pendidikan. Perguruan tinggi Islam dituntutuntuk mengembangkan kurikulum yang tidak memisahkan ilmu umum dan nilai keislaman. Pendekatan integratif-interkonektif memungkinkanmahasiswa memahami ilmu secara utuh dan kontekstual.

Kurikulum bermutu harus:

Berbasis Outcome-Based Education (OBE)
Mengintegrasikan nilai Islam dalam setiap mata kuliah
Responsif terhadap kebutuhan dunia kerja
Mendukung capaian Indikator Kinerja Utama (IKU)

Kurikulum seperti ini tidak hanya meningkatkan kualitas lulusan, tetapijuga memperkuat penilaian akreditasi.

4. Membangun Budaya Mutu sebagai Kesadaran Bersama

Budaya mutu bukan sekadar dokumen, tetapi kebiasaan. Perguruan tinggiIslam harus membiasakan evaluasi diri, audit mutu internal, dan perbaikanberkelanjutan. Ketika mutu menjadi budaya, setiap individu di kampusakan merasa bertanggung jawab atas kualitas institusi.

Nilai disiplin, kejujuran, dan tanggung jawab—yang sejalan dengan ajaranIslam—menjadi fondasi dalam membangun budaya mutu yang kuat dan berkelanjutan.

5. Digitalisasi dan Inovasi untuk Meningkatkan Daya Saing

Di era digital, pemanfaatan teknologi bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan. Sistem informasi akademik, e-learning, repository digital, dan layanandaring membantu perguruan tinggi meningkatkan efisiensi dan transparansi.

Namun, pemanfaatan teknologi harus tetap berlandaskan etika Islam, agar inovasi tidak menghilangkan nilai kemanusiaan dan spiritualitasdalam proses pendidikan.

Dampak Strategi Mutu terhadap Akreditasi Unggul

Strategi pengembangan mutu yang terintegrasi dengan nilai Islam terbuktimemperkuat kesiapan perguruan tinggi dalam menghadapi proses akreditasi. Tata kelola yang baik, SDM berkualitas, kurikulum relevan, budaya mutu kuat, dan sistem digital yang efektif akan meningkatkanperforma institusi secara menyeluruh.

Lebih dari sekadar peringkat, akreditasi unggul yang dicapai melalui nilai-nilai Islam akan menghasilkan lulusan yang unggul, berkarakter, dan mampu berkontribusi nyata bagi masyarakat.

Penutup

Pengembangan mutu perguruan tinggi Islam harus dilakukan secaramenyeluruh, sistematis, dan berkelanjutan. Kepemimpinan Islami, SDM berkualitas, kurikulum integratif, budaya mutu, serta inovasi teknologimerupakan pilar utama dalam mencapai akreditasi unggul.

Dengan mengintegrasikan standar mutu nasional dan nilai-nilai keislaman, perguruan tinggi Islam dapat menjadi institusi unggul yang tidak hanyaberdaya saing, tetapi juga menjadi pusat pembentukan peradaban yang bermartabat.

Daftar Pustaka

Abdullah, A. (2017). Pendidikan Islam integratif. Pustaka Pelajar.

Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi. (2020). Instrumen akreditasiperguruan tinggi. BAN-PT.

Fattah, N. (2019). Manajemen mutu pendidikan. Remaja Rosdakarya.

Hasan, M. (2021). Pengembangan mutu PTKI berbasis nilai Islam. Jurnal Pendidikan Islam, 10(2), 123–135.
https://doi.org/xxxxx (jika ada DOI, kalau tidak boleh dikosongkan)

Ismail, F. (2020). Kepemimpinan Islami dalam pendidikan tinggi. Jurnal Manajemen Pendidikan, 5(1), 45–58.

Latifah, S. (2022). Sistem penjaminan mutu internal di PTKI. Quality Assurance Journal, 7(1), 1–12.

Mulyasa, E. (2018). Manajemen pendidikan tinggi. Bumi Aksara.

Rahman, A. (2021). Budaya mutu dalam pendidikan Islam. Jurnal Tarbiyah, 28(2), 201–214.

Sutrisno. (2020). Integrasi kurikulum dan akreditasi. Jurnal Pendidikan Tinggi, 15(3), 311–325.

Yusuf, M. (2023). Digitalisasi pendidikan tinggi Islam. Jurnal TeknologiPendidikan, 12(1), 67–80.

LAINNYA